Saya berdiri dengan rasa tak sabar di tengah antrean melingkar di Market St. untuk menaiki trem jalur Powell-Hyde ke Fisherman’s Wharf. Jalur ini adalah salah satu dari tiga jalur yang beroperasi hari ini — lainnya adalah jalur Powell-Mason dan jalur California.

Hiruk-pikuk manusia di Hallidie Plaza di sekitarnya membuat tempat ini tak pernah sepi pengunjung.

Trem di San Francisco adalah atraksi wisata yang banyak dicoba pengunjung, selain lokasi lain yang populer seperti Pulau Alcatraz, bekas penjara yang berada di pulau terpisah di teluk San Francisco dan Golden Gate Bridge.
Trem di San Fransisco merupakan daya tarik utama para turis di Amerika. (Sigit Adinugroho)
Dulu, trem (dengan 23 jalur) adalah sarana transportasi publik yang utama dari tahun 1873-1890. Sekarang moda transportasi ini lebih diarahkan menjadi atraksi wisata. Selain karena waktu tempuhnya yang lambat, kapasitasnya yang tak mencukupi, tarifnya juga cukup mahal sekali naik: enam dolar.
Dulu tarifnya mahal sekali. (Sigit Adinugroho)
Pengunjung lebih mencari sensasi “masa lalu” dan menikmati jalan-jalan berbukit di kota ini. Trem di San Francisco adalah satu-satunya yang beroperasi secara manual. Oleh karenanya ia dilindungi dan menjadi satu-satunya monumen nasional bergerak di dunia.
Sensasi "masa lalu" bisa Anda rasakan dengan menaiki trem di San Fransisco. (Sigit Adinugroho)
Untuk menaikinya kita cukup mengantre di salah satu perhentian, baik itu di Market St., Fisherman’s Wharf (Aquatic Park atau Bay St.), Financial District, Van Ness Avenue, atau di perhentian-perhentian di antaranya yang ditandai dengan marka berwarna cokelat tua. Pembayaran atau pengecekan tiket dilakukan ketika sudah naik.
Cukup antre di salah satu perhentian untuk naik trem. (Sigit Adinugroho)
Karena tempat yang terbatas, ada kemungkinan kita akan berdiri, bahkan bergelantung seperti seorang kondektur bus kota. Jika tak ingin bergelantung, maka kita bisa tunggu trem berikutnya, dengan harapan ada tempat yang lebih nyaman untuk berdiri atau duduk.

Hari itu, saya beruntung bisa duduk karena dengan cepat menaiki trem dan menduduki tempat mana saja yang tersedia. Uang enam dolar pun saya keluarkan dari dompet untuk membayar tiket yang akan diperiksa oleh petugas.

Seketika, trem mulai bergerak melintasi padatnya kota. Karena jalurnya berbagi jalan dengan kendaraan pribadi dan umum lain, maka gripman (semacam masinis) harus berhati-hati. Ketika jalanan menanjak, trem pun berjalan lebih lambat. Ketika sampai di puncak bukit, jalanan kembali menurun dan gripman tampak bersusah-payah menarik tuas untuk mengontrol kecepatan.

Angin sejuk menerpa kami semua. Irama dentuman roda dan rel menemani, sambil sesekali dikagetkan oleh bunyi rem yang muncul akibat tuas rem ditarik ketika trem menikung. Kabarnya, pekerjaan gripman ini sangat sulit karena membutuhkan koordinasi fisik yang prima.

Sigit Adinugroho mengisi blog perjalanan di www.ranselkecil.com

Baca juga:

High Line, Taman Gantung Kota New York
Empat Alasan Mesti Membawa Buah Hati ke Selandia Baru
Pasar Trajan: Permata yang Diabaikan di Jantung Kota Roma
[GALERI] Batu-batuan 'Stonehenge' Terbakar dalam Festival Fire Garden
[GALERI] Rumah Terbalik di Austria