Myanmar Tunjuk Nyan Tun Sebagai Wakil Presiden

Naypydaw (AFP/ANTARA) - Parlemen Myanmar pada Rabu menunjuk kepala angkatan laut untuk mengganti seorang dari rezim garis keras sebagai salah satu wakil presiden negara itu, dalam sebuah langkah yang dipandang sebagai penguatan reformis pemerintah.


Laksamana Nyan Tun (58) yang memiliki reputasi sebagai seorang politikus moderat, dipilih oleh personel militer yang membentuk seperempat anggota legislatif dan memiliki hak untuk memilih salah satu dari dua wakil presiden.


"Saya akan melakukan tanggung jawab saya untuk melakukan yang terbaik dari kemampuan saya dan berusaha untuk pengembangan lebih lanjut dari prinsip-prinsip kekal keadilan, kebebasan dan kesetaraan," kata Nyan Tun dalam sumpah jabatannya.


Penunjukannya disetujui oleh sebuah komite pemilu, juru bicara Khin Aung Myint mengumumkan pada sesi gabungan majelis bawah dan parlemen tinggi di ibu kota Naypyidaw.


"Dia sangat tenang dan dikenal sebagai orang yang fleksibel," kata seorang anggota parlemen militer yang tidak ingin disebutkan namanya ketika mengatakan tentang wakil presiden baru itu. "Dia memiliki tiga anak dan menjalani kehidupan sederhana."


Pendahulunya Tin Aung Myint Oo, seorang garis keras terkenal memiliki hubungan dekat dengan mantan kepala junta Than Shwe, mengundurkan diri pada Juli karena sakit, memicu rumor perebutan kekuasaan antara rezim moderat dan konservatif.


Sejak memangku jabatan pada tahun lalu, Presiden Thein Sein, seorang mantan jenderal, melakukan perubahan dramatis seperti pembebasan ratusan tahanan politik dan pemilihan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi ke parlemen.


Kandidat pertama tentara, kepala menteri Yangon Myint Swe, gagal mendapatkan persetujuan karena menantunya adalah warga negara Australia, yang di bawah konstitusi mendiskualifikasinya dalam menjadi wakil presiden.


"Kepala menteri Yangon tidak memenuhi syarat untuk menjadi wakil presiden karena menantunya berasal Australia. Perwakilan militer mengubah nominasi pada pekan terakhir Juli ke Laksamana Nyan Tun," ujar sumber parlemen kepada AFP.


Ketentuan serupa adalah penghalang untuk Suu Kyi mengambil peran kepemimpinan puncak di negara tersebut, dan partainya bersumpah dalam kampanye untuk sepenuhnya merancang ulang aturan konstitusi, yang ditulis oleh mantan junta tersebut.


Myint Swe, seorang pensiunan jenderal, adalah salah satu pemimpin militer yang terlibat dalam tindakan keras mematikan dalam pemberontakan "Revolusi Saffron" yang dipimpin biksu pada 2007. (yg/ik)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.