Dampak menguatnya nilai tukar Yen dan kondisi pasar domestik Jepang juga dirasakan oleh para pelaku industri otomotif di Negeri Sakura tersebut. Nissan Motor Company, Ltd., produsen mobil nomor dua terbesar di Jepang, berencana akan mengurangi 15 persen dari total kapasitas produksinya mulai bulan depan.
Seperti yang dilansir Jiji Press, Kamis (21/6), satu dari dua lini produksi Nissan di Pabrik Oppama, Tokyo bagian selatan, akan dinonaktifkan. Hal itu akan memangkas produksi Nissan dari semula 1,35 juta unit, menjadi 1,15 juta unit. Beberapa hari sebelumnya, Toyota juga mengumumkan pengurangan produksinya di Jepang.
Kepada AFP, juru bicara Nissan menjelaskan, walau berencana mengurangi produksi, namun mereka akan menggunakan fasilitas pabrik yang 'menganggur' untuk menjajal model-model baru. Dengan demikian tak ada akan pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Ini adalah pengurangan kapasitas produksi massal, bukan seberapa besar kita bisa memproduksi. Lini produksi bisa kembali diaktifkan setiap saat kalau dibutuhkan. Tentu saja kami juga mempertahankan para pekerja, meskipun akan dialihkan ke bagian lain," kata juru bicara Nissan tersebut.
Akibat pengurangan produksi tersebut, beberapa model seperti Note, Tiida hatchback dan Tiida Latio (sedan), akan dipindahkan produksinya ke basis produksi kawasan ASEAN, yaitu Thailand.
Nissan adalah salah satu merek Jepang yang berupaya menggenjot produksinya di luar Jepang karena biaya buruh yang tinggi dan penguatan yen. Kondisi ini membuat keuntungan ekspor mereka menyusut karena harga mobil yang diekspor ke negara lain jadi lebih mahal.
Tahun ini, Nissan berambisi mendongkrak pemasukan perusahaan mencapai 9,41 triliun yen atau menjual 4,85 unit mobil di seluruh dunia. Salah satu negara kunci target utamanya adalah China. (kpl/bun)


