Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru
TRIBUNNEWS.COM, NUNUKAN -- Sapada, tersangka utama yang merupakan otak penikaman mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Muhammad Ibrahim tertangkap bersama tiga rekannya di salah satu rumah kontrakan di Jalan Lumba-Lumba, Kecamatan Nunukan. Ketiganya melarikan diri usai bentrok antar kelompok mahasiswa teknik yang menghabisi nyawa Muhammad Ibrahim.
Kasat Reskrim Polres Nunukan AKP Ardian Rahayudi mengatakan, penangkapan ini dilakukan langsung Tim Resmob Polrestabes Makassar yang dipimpin Iptu Sandy Galih dengan anggota Aipda Jipung, Aipda Iskandar dan Bripda Abdillah serta diback up personil Polres Nunukan. Sapada ditangkap bersama tiga saksi masing-masing Muh Aswan, Nurjihadi dan Akmal Hidayat. “Mereka semuanya bukan warga Nunukan. Semuanya mahasiswa,” ujarnya.
Ardian menjelaskan, penangkapan keempatnya berawal dari surat Polrestabes Makassar yang ditembuskan ke Polres Nunukan. Saat itu empat personil dari Resmob Polrestabes Makassar dipimpin Iptu Sandy meminta bantuan untuk mencarikan tersangka yang melakukan penikaman yang mengakibatkan hilangnya nyawa Ibraham, mahasiswa Faskultas Teknik Sipil.
“Diduga lari ke sini, terus kita melakukan pelacakan ke keluarga-keluarganya, nomor handphone yang dihubungi, kita back up empat angota Resmob itu kemudian kita sudah petakanlah lokasi mereka,” ujarnya.
Saat itu keberadaan pelaku sudah diketahui berada di Jalan Lumba-Lumba, di rumah berwarna orange sebelah kiri jalan. Rumah kontrakan dimaksud digunakan Abrat, sebagai kantor konsultan miliknya.
Saat itu, anggota Polisi fokus mencari Sapada, yang diketahui sebagai tersangka.
Ia ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan keterangan saksi dan alat bukti yang dikumpulkan pihak kepolisian. “Kemudian dari alat bukti CCTV fakultas, parkiran, itu mengarah kepada Sapada,” ujarnya.
Sabtu (13/10/2012) sekitar pukul 15.00 dilakukan penggerebekan di rumah tersebut. Saat itu keempatnya ada di rumah dimaksud. “Cuma tiga orang ini kapasitasnya sebagai saksi,” ujarnya.
Dari keterangan tiga saksi, mereka memang dipanggil untuk magang proyek di Nunukan. Sementara Sapada hanya ikut ke Nunukan, namun tak ikut bekerja. Sapada dengan ketiga rekan seangkatannya di kampus tersebut bertemu di Pelabuhan Pare-Pare. Saat itu ketiganya mengajak Sapada untuk ikut ke Nunukan. Mereka berangkat sekitar tiga pekan lalu. “Sapada di sini tidak ada kerjanya, cuma tidur-tidur saja,” ujarnya.
Saat dibawa ke Mapolres Nunukan, Sapada dan ketiga saksi diminta keterangan di tempat yang terpisah. “Semuanya dibawa ke sana karena untuk proses penyelidikan lebih lanjut, apa keterkaitan mereka. Ketiga saksi bilang, kalau kami tidak lari nanti bisa salah sasaran,” katanya.
Awalnya Sapada membantah terlibat pembunuhan dimaksud. Namun karena bujukan Polisi, lambat laun ia akhirnya mengakui perbuatannya. Sapada mengaku lari ke Nunukan dengan alasan, takut aksinya itu mengarah pada konflik antar etnis. Sebab antara korban dan pelaku, berasal dari dua suku yang berbeda. “Dia masih mengelak, kita bujuk subuhnya baru mereka mengaku,” ujarnya.
Sebelumnya saat berada di kapal, Sapada sempat menceritakan kepada tiga temannya itu jika ia yang melakukan penikaman.
Saat dimintai keterangan, Sapada mengaku jika senjata tajam yang digunakan untuk menghabisi Ibrahim dibuangnya di samping Laboratorium Teknik Sipil UMI Makassar. “Kita tanya-tanya bilangnya sudah tertangkap BB saya. Sudah diambil anggota. Setelah anggota Resmob ditelepon, memang sudah ada alat buktinya itu,” ujarnya.
Setelah menjalani pemeriksaan hingga subuh, pagi harinya keempat mahasiswa ini dengan didampingi anggota Polrestabes Makassar diberangkatkan ke Tarakan menggunakan speedboat. Lalu dari Tarakan diterbangkan ke Makassar.



Yahoo! OMG