Berburu Harta Luthfi

PBB Kutuk Serangan ke Konsulat AS di Libya

New York (ANTARA) - Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Dewan Keamanan PBB mengutuk "sekeras-kerasnya" serangan terhadap Konsulat Amerika Serikat pada Selasa (8/12), di Benghazi, Libya, yang menewaskan Duta Besar AS untuk Libya Christopher Stevens dan empat diplomat AS lainnya serta beberapa staf lokal Konsulat.

"Sekretaris Jenderal mengutuk sekeras-kerasnya serangan ini," kata juru bicara Ban dalam pernyataan yang dikeluarkan dari Markas Besar PBB, New York, Rabu.

Menurut pernyataan yang disampaikan juru bicaranya, Vannina Maestracci, Sekjen PBB Ban merasa prihatin atas terjadinya serangan tersebut dan menyatakan rasa duka cita yang mendalam kepada Pemerintah AS serta keluarga para korban.


Ban mengingatkan pemerintah Libya tentang kewajiban mereka untuk melindungi fasilitas-fasilitas dan para pekerja diplomatik.

"Beliau (Ban Ki-moon, red) menyambut baik pernyataan pemerintah Libya bahwa mereka akan mengadili para pelaku," kata Maestracci.


Dalam pernyataan pers yang dikeluarkan Rabu pagi, Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara menyuarakan kecaman yang sama serta menggarisbawahi bahwa pelaku serangan harus diadili.

Dewan juga menyatakan berduka cita kepada keluarga para korban "serangan yang keji ini".

"Keterlaluan"


Dari Washington DC, pernyataan Gedung Putih menyebutkan bahwa Presiden Barack Obama mengutuk serangan yang "keterlaluan dan mengagetkan" terhadap fasilitas diplomatik AS di Benghazi.

Obama memastikan bahwa duta besarnya di Libya, Christopher Steven, dan staf bidang pelayanan publik di Konsulat AS di Benghazi, Sean Smith, dan dua diplomat lainnya menjadi korban tewas dalam serangan hari Selasa.

Obama belum menyebutkan identitas kedua diplomat tersebut.

"Kami masih dalam proses memberi tahu para keluarga mereka," kata Obama dalam jumpa pers di Rose Garden.

Menurut laporan media, Duta Besar Christopher Steven, tiga diplomat AS dan beberapa staf lokal Libya tewas dalam serangan yang kemungkinan dilakukan oleh "kelompok agama" di Libya pada Selasa malam.

New York Times mengutip para pejabat Libya yang mengatakan bahwa dalam kekerasan yang terjadi hari Selasa di Benghazi, para pengunjuk rasa menyerang Konsulat AS dengan senapan-senapan otomatis dan granat roket.

Menurut laporan New York Times, kekerasan hari Selasa itu awalnya dipicu oleh kemarahan massa terhadap cuplikan video Amerika berdurasi 14 menit yang berjudul "Innocence of Muslims", yang disiarkan di laman internet.

Video tersebut baru-baru ini dipublikasikan oleh media Mesir, yang mengingatkan kembali gelombang kemarahan dan unjuk rasa tahun 2005 berkaitan dengan munculnya 12 kartun yang mengolok-olok Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh sebuah surat kabar di Denmark.(rr)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.