PDAM Ternate Rugi Rp4 Miliar

Ternate (ANTARA) - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), mengalami kerugian sekitar Rp4 miliar akibat kebocoran air perusahaan, meskipun produksi air meningkat.

Dirut PDAM Kota Ternate, Syaiful Djafar mengatakan di Ternate, Kamis, PDAM ditaksir mengalami kerugian sekitar Rp4 miliar akibat terjadinya kebocoran air yang mencapai 40 persen, meskipun produksi PDAM mencapai 10 juta kubik atau mengalami peningkatan.

"Kalau dihitung secara ekonomi, kehilangan air 40 persen atau setara dengan 4 juta kubik. setiap kubik Rp1.000 misalnya, berarti 4 juta x Rp 1.000 = Rp4 M," katanya.

Saat ini, menurut Syaiful PDAM berupaya menekan tingkat kebocoran yang didistribusikan ke pelanggan, agar air yang diproduksi semakin bertambah.

"Selama empat bulan terakhir di tahun 2012, PDAM berupaya untuk menekan tingkat kehilangan air 0,97 persen dari jumlah kebocoran air pada 2011 capai 40,97 persen, ujarnya.

PDAM terus berupaya agar suplai air di daerah-daerah dapat teratasi, karena selama ini menjadi kendala dan belum dilayani secara kontinyu, terus dilakukan usaha secara bertahap sehingga bisa terlayani.

Syaiful memberi gambaran, bahwa pada kawasan tertentu PDAM sudah bisa melayani selama 1 x 24 jam, sementara daerah lain dilayani secara bergiliran dalam seminggu, sehingga perlahan-lahan diharapkan prinsip kontinuitas bisa terpenuhni pada saatnya.

Ia juga mengakui kalau selama ini PDAM mengalami kesulitan memperoleh bantuan dana dari pemerintah pusat dalam rangka mengembangan produksi air ini, menyusul dana dari APBD tak bisa diandalkan.

Menurutnya, perusahaan yang dipimpinnya sulit mendapatkan bantuan dana dari pemerintah pusat cq Kementerian Pekerjaan Umum misalnya.

"Pusat bisa berupaya peroleh bantuan dana untuk pengembangan PDAM, namun perusahaan ini sampai saat ini tidak punya Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (Rispam)," ujarnya.

Oleh karena itu, PDAM, mengalami kendala dana dalam memberi pelayanan air minum pada konsumen yang terkadang pipa induk maupun fasilitas pendukung terganggung sehingga pelanggan tak jarang mengeluh.(rr)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.