Beirut (AFP/ANTARA) –Rezim pemimpin Suriah Bashar al-Assad akan diguncang oleh pembelotan yang lebih “spektakuler” dalam waktu dekat, ujar Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius kepada AFP.
Rezim Damaskus terpukul oleh pembelotan perdana menteri Riad Hijab dan jenderal Manaf Tlass, yang merupakan teman masa kecil Assad dan putra dari tangan kanan ayahnya, Hafez.
“Menurut informasi yang kami miliki, namun kita akan melihat apakah ini akan terbukti dalam beberapa hari ke depan, akan ada pembelotan spektakuler lainnya,” kata Fabius saat berkunjung ke Beirut.
Mengenai pembelotan dari Hijab dan Tlass, Fabius mengatakan bahwa “semua ini menunjukkan bahwa orang-orang dari komunitas yang berbeda memutuskan untuk meninggalkan rezim tersebut karena mereka melihat bahwa satu-satunya yang dilakukan Assad saat ini adalah membunuh rakyatnya sendiri.”
Ia mengatakan bahwa rezim itu dalam keadaan “dekomposisi”, menambahkan “Kami ingin ini terjadi secepat mungkin.”
Seperti mayoritas penduduk Suriah, Hijab adalah seorang Muslim Sunni, sementara klan Assad menganut sekter Alawit, sebuah cabang dari Syiah.
Konflik meletus pada Maret 2011 ketika pasukan rezim menindak protes damai dan memicu pemberontakan bersentaja, yang menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi telah menewaskan 23.000 orang.
PBB menyatakan jumlah korban tewas sebanyak 17.000 jiwa. (ai/pt)


