TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) mendesak pemerintah menyelidiki beredarnya daging sapi selundupan asal India. Menurut Ketua APPHI Marina Ratna kasus ini muncul akibat pemerintah tak bisa menjamin ketersediaan pasokan daging nasional.
"Ini seperti bom waktu yang akhirnya meledak." kata dia kepada Tempo, Senin, 13 Agustus 2012.
Menurut Marina, munculnya daging selundupan dipicu kebutuhan konsumen. Saat ini, kata dia, pasokan daging tak bisa menutupi permintaan yang cukup tinggi. Situasi ini mendorong para importir nakal untuk mengambil keuntungan yang berasal dari selisih harga daging selundupan asal India dengan harga jual di dalam negeri.
"Perbedaan harganya cukup tinggi sehingga para penyelundup bisa meraup keuntungan," ujarnya.
Peredaran daging selundupan dari India pun mengkhawatirkan. Alasannya, sapi dari negara itu tak terjamin kesehatannya karena tidak dirawat oleh karantina hewan. India juga belum terbebas dari penyakit mulut dan kuku sapi. "Daging ilegal ini harus diwaspadai karena beredar di pasar tradisional," katanya.
Pekan lalu dua peti kemas yang berisi 64 ton daging sapi ilegal asal India ditemukan di kawasan pergudangan Cengkareng, Banten. Kiriman daging bertuliskan SQ ROLL No registrasi dan bertuliskan huruf Arab itu diperkirakan masuk ke Jakarta melalui Kalimantan Barat atau Pelabuhan Tanjung Priok pada 25 Juli 2012.
Sumber Tempo mengatakan indikasi daging tersebut berasal India adalah dari keterangan kedaluwarsa ditulis dengan huruf Arab. »Kalau dari Australia dan Selandia Baru tidak menggunakan huruf Arab,” kata dia.
Menurut sumber itu, awalnya daging impor ilegal tersebut diakui sebagai daging lokal asal Cirebon. Namun hal itu tak terbukti. Potongan-potongan daging itu kini sudah didistribusikan ke Pasar Jaya Pulogadung, Jakarta Timur, dan sudah mulai ditawarkan kepada rumah potong hewan di Jakarta.
Saat dikonfirmasi, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini menyatakan masih berupaya menelusuri peredaran daging ilegal asal India itu. "Belum ada laporan," katanya.
ROSALINA


