Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia terus menyiapkan produsen dan eksportir dalam negeri agar siap berkompetisi di tingkat global, meski mendapat tekanan cukup kuat dari berbagai negara.
"Pemerintah Indonesia masih bergeming untuk mengeluarkan produk ramah lingkungan, meski mendapat tekanan dari sana sini," kata Kepala Bidang Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Moskow M. Aji Surya dalam surat elektronik yang diterima di Jakarta, Senin.
Aji Surya mengutip hasil pembicaraan tentang produk dagang yang ramah lingkungan di forum APEC, Kazan, 2 Juni 2012. Delegasi Indonesia yang hadir antara lain Dirjen Kerja sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo.
Menurut Iman, pemerintah Indonesia sebenarnya telah menyikapi secara jelas negosiasi soal produk ramah lingkungan ini. Secara prinsip memang tidak ada masalah dan bahkan memberikan dukungan, namun sampai saat ini tengah dikaji secara mendalam tentang dampak implementasinya.
Dengan kata lain, lanjutnya, Indonesia masih ingin memberikan kesempatan kepada produsen dan eksportirnya untuk mempersiapkan diri dengan baik.
"Sambil mempersiapkan pengusaha nasional, Pemerintah terus mengadakan konsolidasi internal untuk mematangkan daftar produk ramah lingkungan dari Indonesia. Kita ingin produk ini benar-benar memperhatikan aspek lingkungan, bukan melulu aspek dagangnya yang ditonjolkan," ujarnya.
Iman menambahkan Indonesia memiliki banyak sekali produk yang sangat ramah lingkungan baik dalam bentuk yang sederhana dan tradisional hingga yang berteknologi.
Masalahnya, di forum APEC ini belum terdapat kejelasan tentang kriteria produk dagang yang bisa masuk dalam daftar ramah lingkungan.
"Menciptakan kebijakan di forum internasional memang perlu kecermatan tinggi dan kehati-hatian," tambahnya.
Menurut pantauan Aji Surya, di antara ekonomi APEC terkesan masih terbelah dua, antara yang mendukung sepenuh hati dan yang masih berat hati. Masalahnya kembali kepada kesiapan masing-masing ekonomi dan perlindungan terhadap produsen dan eksportirnya. Isu besar ini pernah menggelinding di forum WTO namun kemudian deadlock, mati suri, katanya.
Yang terkesan siap dengan produk ramah lingkungan adalah ekonomi APEC dari negara-negara yang memiliki koordinasi internal relatif baik. Mereka diperkirakan akan mampu meraup keuntungan ekonomi dengan disyahkannya daftar ramah lingkungan.
Sementara negara kurang siap terlihat masih maju mundur mengingat hal tersebut bisa berdampak negatif bagi ekonomi dalam negeri bila tidak diikuti kesiapan prima. Bahkan banyak ekonomi APEC yang mempertanyakan mengapa pembicaraan tentang isu ini seolah dipindah dari WTO ke APEC.
Sampai dengan akhir Mei 2012 tercatat 13 dari 21 anggota APEC telah menyerahkan daftar produknya yang ramah lingkungan untuk kemudian dikompilasi oleh "Friend of the Chairs EG APEC" menjadi 300-an produk.
Negara-negara maju yang sudah menyetor daftar produknya seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Hong Kong, dan Rusia. Bahkan empat anggota ASEAN juga telah melaksanakan tugasnya, mereka adalah Thailand, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.
Sementara, Indonesia berada di jajaran yang belum menyetor bersama beberapa negara seperti Vietnam dan Filipina.
Salah satu masalah yang mengemuka, menurut Aji Surya, adalah tentang status ramah lingkungan manakala sudah terkumpul semua daftar produk. Apakah produk ramah lingkungan yang disebut EG itu akan mandapatkan perlakuan khusus dalam hal tarif ataukah menjadi semacam produk bersama yang harus diterima semua ekonomi APEC.
"Yang sudah pasti, negara yang telah menyerahkan daftarnya berharap segera memasuki pasar ekonomi lainnya dengan kemudahan tertentu sebagai konsekuensi label ramah lingkungan," katanya.
Upaya perlindungan lingkungan hidup di antara ekonomi APEC yang "diejawantahkan" dalam daftar produk ramah lingkungan telah disepakati pada KTT APEC di Honolulu tahun lalu. Diharapkan pada 2012 ini telah terkumpul daftar tersebut untuk dapat dibahas lebih lanjut dan dikeluarkan berbagai kebijakan terkait produk dimaksud, demikian Aji Surya. (tp)

