Penebusan Tanpa Kejayaan bagi Italia

Kiev (AFP/ANTARA) - Italia mungkin telah mendapat pelajaran berharga dari kekalahan mereka di partai final Euro 2012 melawan Spanyol, namun jauh sebelum pertandingan itu dimulai setidaknya mereka telah mencapai penebusan.


Italia menyambut turnamen dengan bekal tiga kali kekalahan beruntun, meskipun semua dalam laga persahabatan, dan maju dengan target terendah dari turnamen yang pernah mereka ikuti sebelumnya dalam beberapa dekade.


Untuk tim yang memiliki mahkota juara dunia empat kali, rekor yang hanya kalah dari Brasil, Italia tidak dijagokan akan bisa melewati beberapa tantangan dan menang.


Namun, ketika mereka muncul di base kamp mereka di Krakow pada 5 Juni, tidak ada orang yang menyatakan, setidaknya secara publik, bahwa mereka percaya akan berhasil melangkah ke final dan percaya bahwa itu hanya mimpi.


Bahkan tidak ada yang bicara mengenai optimistis dari pertanda keberuntungan pengaturan pertandingan.


Italia menjuarai dua Piala Dunia mereka, pada 1982 dan 2006, setelah terjadi kasus di liga tapi meskipun sedang terjadi Calcioscommesse (taruhan sepak bola) hal itu menjadi berita utama di Italia, kepercayaan takhayul dan takdir mulia menjadi berita utama sensasional di media.


Namun, dalam waktu kurang sebulan, tim Cesare Prandelli kembali muncul dari tim lemah menjadi salah satu kekuatan sepak bola besar seperti mereka biasanya.


Dalam enam tahun sejak terakhir kali Italia mengangkat piala turnamen utama, mereka lolos dari grup Euro 2008 namun dikalahkan sang juara Spanyol di perempat final.


Dua tahun kemudian Italia kembali dibesut Marcelo Lippi, pelatih yang membawa mereka menjuarai Piala Dunia, namun mereka tetap dipermalukan pada Piala Dunia yang diselenggarakan di Afrika Selatan.


Mereka masuk dalam grup bersama tim yang di atas kertas jauh di bawah mereka, namun skuad Lippi tak mampu lolos ke tahap selanjutnya setelah menempati juru kunci dalam grup yang hanya berisikan Selandia Baru, Slowakia, dan Paraguay.


Setelah prestasi yang memalukan tersebut, federasi berjanji untuk kembali memulai dari awal dan Prandelli ditunjuk untuk membawa pendekatan yang lebih segar.


Meskipun mereka memulai turnamen sebagai peserta biasa, atau setidaknya di luar favorit utama, mereka mendapatkan penggemar baru dan pujian atas pendekatan mengherankan proaktif yang mereka mainkan.


Mereka mencapai puncak dalam tampilan semifinal brilian melawan Jerman di mana seniman Andrea Pirlo menampilkan paket lengkap dari seorang pesepakbola yang jenius.


Namun dia bersama rekan-rekan satu timnya tidak mampu kembali tampil baik dalam laga final untuk membuat satu pertunjukan terbesar yang pernah ada, mungkin dengan menjadi tim terbaik sepanjang masa.


Memang Italia terjungkal pada rintangan terakhir mereka dengan cukup mengaggetkan, namun takdir mereka sudah ditetapkan.


Itu adalah tim yang akan memulai dari sini dengan pelatih cerdas dan berbakat dan optimisme menyerang yang baru.


Mereka belum ada di sana (juara) tapi Italia sedang berada dalam perjalanan mereka kembali menjadi favorit juara disetiap turnamen seperti di masa lalu. (nm/jk)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.