Kenaikan BBM

Penerimaan Pajak Meningkat 16 Persen Tahun Depan

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Agus Martowardojo memastikan penerimaan pajak pada RAPBN 2013 akan meningkat hingga 16 persen dibandingkan penerimaan pajak yang ditetapkan dalam APBN-Perubahan 2012 sebesar Rp885,03 triliun.

"Penerimaan pajak kita harapkan, paling tidak pajak di luar bea dan cukai bisa tumbuh sekitar 16 persen," ujarnya di Jakarta, Senin.

Menurut Menkeu, dalam upaya mencapai target penerimaan tersebut, pemerintah akan meningkatkan target penerimaan pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN) yang dalam APBN-P 2012 telah ditetapkan sebesar Rp849,71 triliun.

"Target 16 persen adalah gabungan dan yang memang kita perlu tingkatkan adalah di PPh dan PPN," ujarnya.

Selain itu, Menkeu mengharapkan penerimaan negara bukan pajak akan ikut memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara tahun depan, walau diperkirakan realisasinya lebih rendah dari APBN-Perubahan 2012 sebesar Rp341,1 triliun.

"Kita harapkan penerimaan negara bukan pajak juga memberikan kontribusi walaupun mungkin jumlahnya akan lebih rendah daripada tahun ini, karena harga minyak yang lebih rendah kita asumsikan dibandingkan asumsi APBN-Perubahan 2012," ujarnya.

Sementara, untuk menutup pembiayaan defisit anggaran yang pada RAPBN 2013 ditetapkan pada kisaran 1,6 persen-1,7 persen, pemerintah masih akan bergantung pada sumber pembiayaan dalam negeri melalui penerbitan surat berharga negara.

"Sebagian besar (pembiayaan) akan ada dalam bentuk SUN, SBN termasuk sukuk," kata Menkeu.

Namun, Menkeu mengatakan pemerintah masih akan memberikan porsi sebesar 25 persen untuk menambal defisit anggaran melalui pembiayaan dan pinjaman luar negeri pada tahun depan.

"Pembiayaan luar negeri itu porsinya kira-kira ada di kisaran 25 persen, yang selebihnya dari domestik," ujarnya.

Terkait pembiayaan dalam dan luar negeri, Menkeu mengatakan pemerintah akan mewaspadai defisit transaksi berjalan yang diperkirakan menurun hingga akhir tahun 2012 karena dapat mempengaruhi imbal hasil surat berharga negara atau pembayaran bunga utang.

"Area yang perlu kita waspadai adalah kemarin yang current account defisit kita membesar, yang walaupun kita menyakini di kuartal berikutnya bisa mengecil, tetapi kalau kita tidak hati-hati kondisi itu bisa membuat atau berpengaruh kepada yield atau bunga yang kita mau dapatkan kalau kita mau melakukan pembiayaan," ujarnya.

Untuk itu, ia mengharapkan gejolak perekonomian dunia dapat makin reda agar pembiayaan yang diperlukan untuk menutup defisit tidak terlalu banyak dan beban bunga utang yang wajib dibayarkan pemerintah tidak terlalu besar seperti yang terjadi hingga pertengahan 2012.

"Kita bandingkan dengan tahun yang lalu untuk penerbitan di tahun 2012 itu bisa rata-rata kita menghemat sampai Rp5 triliun bunganya. Jadi di tahun 2013 kita harapkan bisa tetap terjaga. Namun kita perlu waspadai perkembangan daripada ekonomi, untuk kita tetap bisa menjaga kesehatan dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi," kata Menkeu. (tp)


PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Jajak Pendapat Yahoo!

Setujukah Anda jika Pekan Raya Jakarta kembali diselenggarakan di Monas?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat