Paris (AFP/ANTARA) – Perdana Menteri Prancis, Jean-Marc Ayrault, pada Rabu mengatakan bahwa siapapun yang tersinggung dengan beberapa kartun Nabi Muhammad yang dipublikasikan dalam majalah satiris Prancis, Charlie Hebdo, akan membawa masalah tersebut ke pengadilan.
Namun dia menekankan tradisi bebas berbicara Prancis. “Kita berada dalam sebuah negara yang menjamin kebebasan berekspresi, termasuk di antaranya kebebasan untuk membuat karikatur,” ujarnya dalam radio RTL.
Sampul Charlie Hebdo menunjukkan seorang pria Muslim di sebuah kursi roda yang didorong oleh seorang Yahudi Ortodoks di bawah judul ‘Intouchables 2’, mengacu pada sebuah film Prancis mengenai seorang laki-laki miskin berkulit hitam yang membantu seorang aristokrat tuna daksa.
“Jika orang-orang sangat tersinggung dalam keyakinan mereka dan berpikir adanya sebuah pelanggaran hukum, dan kita berada di sebuah negara yang mana hukum harus-benar-benar dihormati, mereka dapat mengajukannya ke pengadilan,” ujar Ayrault.
Dia juga mengatakan bahwa permohonan telah diajukan namun ditolak “karena tidak ada alasan untuk mengizinkan konflik yang tidak memperdulikan Prancis ke dalam negara kita.”
Charlie Hebdo tidak asing dengan kontroversi mengenai penanganan isu terkait Islam.
Pada tahun lalu majalah tersebut mempublikasikan sebuah edisi “guest-edited” dengan Nabi Muhammad yang disebut Sharia Hebdo. Kantor-kantor majalah di Paris tersebut kemudian dibom. (dh/ml)


