Penghargaan buat SBY

Pengamat: Foke-Nara Panik Pilkada Dua Putaran

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Iberamsyah menilai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut satu, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) terlihat semakin panik dalam menghadapi perkembangan masa kampanye pilkada yang tinggal beberapa hari.

Pasangan ini juga tidak percaya diri, hal itu tergambar dari ngototnya mengusung jargon menang ‘satu putaran’ saja, padahal untuk masuk ke putaran dua saja sudah cukup bagus.

Baik Iberamsyah dan pemerhati pemilu, Ray Rangkuti, mengimbau masyarakat untuk lebih kritis menilai para kandidat dan memilih pemimpin Jakarta yang benar-benar ingin memajukan Ibukota ini.

Iberamsyah, guru besar ilmu politik UI ini mengatakan, basis dukungan pasangan Foke – Nara yakni Partai Demokrat (PD) sudah sangat rapuh dan bahkan dibenci masyarakat karena para pemimpinnya terlibat skandal korupsi.

“Jadi, Foke-Nara berjalan di atas kapal yang rapuh,” kata Iberamsyah, Rabu (4/7/2012).

Iberamsyah menyangsikan jika pilkada DKI ini berlangsung satu putaran seperti banyak diklaim pendukung Foke-Nara. Sebab suara akan terbagi pada enam pasangan kandidat. Ini tanda-tanda pilkada akan curang jika terus digelorakan menang satu putaran. Bukankah hal itu tidak mungkin dalam kondisi enam pasang kandidat ini.

“Kalau ternyata berlangsung satu putaran dan Foke –Nara menang, wah, perlu kita curigai. Kemungkinan ada permainan suara,” katanya.

Foke–Nara yang hanya mengandalkan basis suara Partai demokrat, dipastikan hanya akan mendapat 10-15 persen suara saja. Lumbung suara yang diharapkan Foke-Nara, justru akan diambil oleh pasangan Alex-Nono dan Jokowi –Ahok, juga oleh pasangan PKS Hidayat-Didik.

Dalam polling Liputan 6 SCTV yang digelar beberapa hari lalu hingga kini, terbukti, Foke Nara hanya diurutan kelima, dengan mendapat suara 8,6 persen, jauh di bawah Alex-Nono yang memperoleh suara 28,3 persen dan berada di urutan kedua.

Ray Rangkuni yang juga Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) menyatakan, Foke-Nara bukan saja panik melihat geliat para kandidat, lain terutama yang memiliki basis suara cukup kuat seperti pasangan Jokowi-Ahok dan Alek Noerdin-Nono, pasangan nomor satu masih menerapkan model kampanye pola lama.

Pola lama yang dimaksud Ray adalah dengan mengandalkan pengerahan massa, memanfaatkan birokrasi dan pemanfaatan ruang publik untuk pemasangan atribut kampanye. Beda dengan pasangan lain seperti pasangan Faisal-Beim, atau pasangan Jokowi – Ahok.

“Saya memperhatikan kok, sekarang makin intensif iklan pemprov DKI Jakarta di berbagai media, terutama televisi. Dana iklan Pemrov ini dipastikan cukup besar dan tampaknya untuk mendongkrak pasangan incumbent,” kata Ray Rangkuti.

Baca Juga:

  • Alex Noerdin: Masih Ada Waktu untuk Berdamai
  • Jambret Tas Timses Jokowi, Diki Dilempar ke K...
  • Dirampok Kantor Pusat Tanaman Pangan Holtikul...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat