Penghargaan buat SBY

Pengungsi Suriah di Lebanon Berdoa Bagi Perdamaian, Keamanan Saat Idul Fitri

Bekaa, Lebanon (ANTARA/Xinhua-OANA) - Air mata dan kesedihan pengungsi Suriah di Lebanon menyelimuti kebahagiaan Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan, saat mereka berdoa bagi perdamaian dan keamanan di negara mereka.

Mereka juga menyampaikan kemarahan dan penyesalan atas kesulitan mereka saat ini akibat kerusuhan di tanah air mereka. Menurut laporan paling akhir yang dikeluarkan setiap pekan oleh badan pengungsi PBB, Lebanon menampung sebanyak 4.700 pengungsi Suriah.

Selama hari pertama Idul Fitri, pengungsi Suriah di Lebanon berdoa kepada Tuhan bagi keselamatan negara mereka dan pulihnya keamanan serta perdamaian sehingga mereka bisa pulang ke desa dan kampung halaman mereka.

Abdel Hakim Kawas, ayah seorang anak yang berusia enam tahun dan tinggal di satu ruang kecil ia sewa dua bulan lalu di satu desa di Bekaa, mengatakan, "Idul Fitri adalah saat sedih bagi kami tahun ini, sementara kami telah berusaha selama berjam-jam untuk menelepon kerabat kami di Provinsi Aleppo di Suriah, tempat pertempuran antara prajurit pemerintah dan petempur oposisi, untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri tapi gagal, sebab semua saluran komunikasi terputus."


Ia menambahkan satu kelompok masyarakat sipil Lebanon pada pagi hari Idul Fitri membagikan manisan dan mainan buat anak kecil, demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Senin pagi. "Namun itu gagal mengobati luka yang tertoreh di dalam diri kami sebab kami kehilangan tempat tinggal dan menjalani hidup yang berat, dan kami memikirkan masa depan Suriah dan keluarga kami," kaya ayah satu anak tersebut dengan wajah diselimuti kesedihan.

Seorang perempuan pengungsi yang bernama Alia Al-Charif mengatakan, "Kami mencari kegembiraan tapi gagal, sebab hati kami dipenuhi kesedihan."


Perempuan tersebut, yang kehilangan suami di Provinsi Idlib, Suriah dan berhasil menyelamatkan diri ke Lebanon bersama lima anaknya, dengan berlinang air mata mengatakan, "Idul Fitri memiliki arti khusus pada masa lalu, tapi tidak hari ini. Kami kehilangan arti hakiki bulan suci, yaitu perdamaian dan cinta."


Ia menyimpulkan "dalam kondisi ini, apa yang tersisa bagi ialah berdoa agar pembunuhan di negeri kami segera berhenti".

Seorang lagi pengungsi Suriah dari Aleppo mengatakan, "Tak ada rasa manis di dalam manisan yang dibagikan orang-orang baik hati di Bekaa kepada kami pagi ini. Itu hambar sebab keprihatinan kami sekarang ialah cara menyelamatkan negara kami dan pulang ke rumah kami. Tak Id tanpa tanah air."


Sebagian orang Suriah yang kehilangan tempat tinggal berpura-pura bahagia di depan anak mereka. Salma Azzi, yang meninggalkan permukiman di Damaskus bersama tiga anaknya, berusaha menampilkan wajah gembira buat anak-anaknya dan mengatakan, "Saya mengeluarkan 20 dolar AS untuk membeli boneka dan satu kilogram manisan buat tiga anak saya." (tp)


PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.