Berburu Harta Luthfi

Penyerang Tembak Mati Lima Wanita Irak

Samarra, Irak (AFP/ANTARA) - Sejumlah orang bersenjata menembak mati seorang wanita, tiga putrinya dan seorang perempuan menantunya di kota Samarra, Irak, Sabtu malam, kata beberapa pejabat keamanan dan medis.

Kelima wanita itu dibunuh di sebuah rumah di daerah Al-Shuhada, Samarra, sebelah utara Baghdad, setelah mereka berbuka puasa, kata seorang letnan kolonel polisi.

Menurut sumber itu, sasaran serangan kelompok bersenjata tersebut adalah suami dari wanita yang paling tua, Hamid Majid, yang bekerja sebagai seorang kepala sekolah di Samarra, namun ia tidak berada di rumah pada saat itu.

Satu sumber medis di rumah sakit Samarra mengatakan, pihaknya telah menerima mayat kelima wanita yang ditembak mati itu.

Serangan itu merupakan yang terakhir dari rangkaian kekerasan yang meningkat lagi di Irak.

Senin (23/7) merupakan hari paling mematikan di negara itu dalam waktu dua setengah tahun ini, setelah Al Qaida memperingatkan akan melancarkan serangan-serangan baru dan merebut wilayah.

Sejumlah pejabat mengatakan, sedikitnya 111 orang tewas dan 235 cedera dalam 28 serangan berbeda di 19 kota pada hari itu.

Kekerasan itu menyulut kecaman dari utusan khusus PBB untuk Irak, ketua parlemen negara itu dan Iran, negara tetangga Irak.

Serangan-serangan itu dilakukan sehari setelah gelombang pemboman di Irak yang menewaskan sedikitnya 17 orang dan mencederai hampir 100. Jumlah kematian dalam kekerasan Senin itu merupakan yang tertinggi sejak 8 Desember 2009 ketika 127 orang tewas.

Sepanjang Juni Irak dilanda gelombang serangan yang menewaskan sedikitnya 282 orang, menurut hitungan AFP, sementara data pemerintah menyebutkan jumlah kematian pada bulan itu hanya 131 orang.

Kekerasan di Irak turun dari puncaknya pada 2006 dan 2007, namun serangan-serangan masih terus terjadi. Menurut data pemerintah, 132 orang Irak tewas pada Mei.

Irak dilanda kekerasan yang menewaskan ratusan orang dan kemelut politik sejak pasukan AS menyelesaikan penarikan dari negara itu pada 18 Desember 2011, meninggalkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak.

Selain bermasalah dengan Kurdi, pemerintah Irak juga berselisih dengan kelompok Sunni.

Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (Syiah) sejak Desember mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni.

Para ulama Sunni memperingatkan bahwa Maliki sedang mendorong perpecahan sektarian, dan pemrotes memadati jalan-jalan Irak dengan membawa spanduk yang mendukung Hashemi dan mengecam pemerintah.

Pejabat-pejabat Irak mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Wakil Presiden Tareq al-Hashemi pada Senin (19/12) setelah mereka memperoleh pengakuan yang mengaitkannya dengan kegiatan teroris.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Irak Mayor Jendral Adel Daham mengatakan pada jumpa pers, pengakuan para tersangka yang diidentifikasi sebagai pengawal Hashemi mengaitkan wakil presiden tersebut dengan pembunuhan-pembunuhan dan serangan.

Surat perintah penangkapan itu ditandatangani oleh lima hakim, kata Daham.

Puluhan pengawal Hashemi, seorang pemimpin Sunni Arab, ditangkap dalam beberapa pekan setelah pengumuman itu, namun tidak jelas berapa orang yang kini ditahan.

Hashemi, yang membantah tuduhan tersebut, bersembunyi di wilayah otonomi Kurdi di Irak utara, dan para pemimpin Kurdi menolak menyerahkannya ke Baghdad.

Pemerintah Kurdi bahkan mengizinkan Hashemi melakukan lawatan regional ke Qatar, Arab Saudi dan Turki.

Presiden wilayah otonomi Kurdi Irak Massud Barzani menyerukan perundingan darurat untuk mencegah runtuhnya pemerintah persatuan nasional, dengan memperingatkan bahwa "keadaan sedang mengarah ke krisis yang dalam".

Barzani sendiri bersitegang dengan pemerintah Maliki dan menuduh PM Irak itu bergerak ke arah kediktatoran dengan "membunuh proses demokrasi" setelah ketua komisi pemilu Irak ditangkap atas tuduhan korupsi.

Pemimpin Kurdi itu menentang penjualan pesawat tempur F-16 AS kepada Irak bila Maliki masih menjadi PM, karena ia khawatir pesawat-pesawat itu akan digunakan untuk menyerang Kurdistan.

Irak akan menerima 24 dari 36 jet tempur F-16 yang dipesannya dari AS pada awal 2014, kata seorang pejabat tinggi Irak kepada Reuters, Minggu (29/4).(ar)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.