Aarsal (AFP/ANTARA) – Marwan yang baru berusia tujuh tahun berkonsentrasi saat ia menggambar, hitam, merah, dan kuning mengisi kertas putihnya.
Namun untuk anak kecil itu, seorang pengungsi di Lebanon dari kekerasan mengerikan yang melanda negaranya, gambar yang ia buat bukanlah salah satu bentuk kegembiraan yang mengisi sekolah-sekolah di belahan dunia lainnya.
Gambar itu merupakan sebuah memori tentang kota asalnya Qusayr, yang terbakar setelah dibom oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad.
Dia juga masih mengingat memori peristiwa mengerikan itu, yang membuat para pekerja sosial di pusat pengungsian tersebut di bagian utara kota Aarsal, Lebanon, melakukan yang terbaik untuk memastikan tidak ada kenangan yang menyiksanya dalam sisa hidupnya.
"Saya melihat bagaimana mereka membunuh ayah saya di depan saya," kata Marwan, air matanya mengalir deras. Para tentara Assad “menembaknya ketika mereka menyerang Qusayr."
Warga Lebanon, Samir Ismail mengurus pusat pengungsian di Aarsal, dekat perbatasan Suriah, di mana ia dan rekan-rekannya berjuang untuk memastikan bahwa lebih dari 70 anak-anak pengungsi yang datang setiap hari akan dapat melupakan kenangan menyakitkan mereka.
Marwan seperti anak lain seusianya, tersenyum lebar, memiliki energi yang tidak terbatas yang membuatnya selalu bergerak.
Kemudian, tanpa peringatan, “ia akan menangis tak terkendali, ketika kalian bahkan tidak menduganya, dia sangat berduka. Ini sangat menyedihkan,” kata Ismail.
Marwan, seperti anak-anak lainnya, telah menjadi seorang seniman perang.
Noor Hussain adalah salah satu pekerja sosial di pusat pengungsian yang dijalankan oleh Terre des Hommes, sebuah organisasi dengan cabang di seluruh dunia yang didedikasikan untuk membantu anak-anak, yang didirikan di Lausanne, Swiss.
"Dalam gambar mereka, mereka mencurahkan segala sesuatu yang mereka alami dan apa yang mereka rasakan. Banyak gambar mereka yang menggambarkan korban tewas dan terluka, rumah yang terbakar, tank-tank yang melakukan serangan, kebakaran," kata Hussain.
"Ketika kami meminta mereka untuk menggambar hal yang ada dipikirkan mereka, yang muncul selalu, selalu perang.”
"Sebagian besar anak-anak ini kehilangan keluarga, mereka pernah melihat orang-orang dibunuh, peristiwa pengeboman. Mereka hidup melalui yang 80 persen orang saksikan di televisi.”
Seperti Marwan, katanya, "kami seringkali menemukan anak-anak yang duduk tenang di dalam kelas kemudian tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.”
Ketika itu terjadi, Hussain mengatakan, "Kami membawa mereka keluar dari kelas dan berbicara dengan mereka, kami mencoba menghibur mereka. Pekerjaan kami sangat penting, karena pengalaman traumatis mereka akan berdampak pada sisa hidup mereka.” (ai/pt)

