H+5 Terperangkap

Pilkada Jakarta Miniatur Perubahan Politik

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Sekretaris Majelis Nasional Partai NasDem Jeffrie Geovanie memprediksi, pemilu 2014 menjadi pertarungan figur. Partai politik yang hanya mengandalkan mesin politik dan tetap mempertahankan figur atau elit tua akan mudah ditinggalkan oleh pemilih atau rakyat.

Hal ini, kata Jeffrie, sudah terbukti, dengan munculnya fenomena kemenangan Jokowi-Basuki dalam pilkada DKI Jakarta. Jokowi-Basuki hanya didukung dua partai sementara Foke-Nachrowi didukung tujuh partai.

"Pertama, publik lebih memilih figur yang sederhana, merakyat, dan jujur. Itu menjadi Fenomena yang berlaku juga pada pileg dan pilpres 2014," ujar Jeffrie dalam rilisnya kepada Tribun, Sabtu (29/9/2012).

Kekuatan figur, imbuhnya, mengalahkan kekuatan politik uang. Bahkan kekuatan uang sangat sedikit mempengaruhi alektabilitas.

"Kegagalan partai-partai membaca tren soal figur ini bukan tidak mungkin akan membuat mereka gagal menghadapi Pemilu. Terutama Pemilu Presiden, disebabkan karena capres-capres yang mereka ajukan bukan berasal dari tokoh-tokoh baru yang pro perubahan," terangnya.

Rakyat, menurut Jeffrie sudah cukup dewasa untuk tidak terbawa arus upaya-upaya yang merusak demokrasi. Bahkan penggunaan agama dalam kampanye yang melibatkan tokoh-tokoh terkemuka pun tidak mempengaruhi pilihan politik warga. "Terpilihnya Jokowi-Ahok membuktikan kandasnya politisasi agama," ujarnya.

Menurutnya, kedewasaan rakyat dalam demokrasi ini harus secara arif dan rasional dicermati oleh partai politik saat ini. Saat ini, rakyat secara otonom mempunyai pilihan sendiri. Karena itu, katanya lagi, saatnya partai politik mempersiapkan kader inovatis yang bisa menjadi figur alternatif menangkan pilpres 2014. Rakyat jenuh dengan kader partai yang 'itu-itu saja'.

Sebetulnya, menurut Jeffrie, kedewasaan rakyat dalam berdemokrasi menjadi kabar baik bagi parpol karena bisa menjadi proses pembelajaran agar lebih cermat lagi dalam memilih figur, tidak semata-mata terbuai popularitas."Karena rakyat lebih cenderung memilih otentisitas ketimbang popularitas,' tegasnya.

Figur yang laku di masyarakat biasanya karena ide-ide kratifnya, bukan karena proses mobilisasi isu dimana ada transaksi keuangan di baliknya.

"Pilkada Jakarta bisa menjadi miniatur perubahan politik yang bisa mendorong terjadinya perubahan yang lebih besar. Partai-partai yang cenderung apriori terhadap perubahan seyogianya melihat bahwa tren perubahan itu nyata adanya, dan tidak dapat dibendung walau dengan menjalin kerjasama antar elite dan antar partai-partai politik," tegasnya.

Berita Terkait: Parpol Terkorup
  • PKS: Seskab Jangan Sampai Jadi Jubir Salah Satu Partai
  • Golkar: Bagian Upaya Hambat Ical Jadi Presiden 2014
  • Golkar Nilai Istana Tengah Mainkan Pencitraan 2014
  • Poempida: Pemerintah Ibarat Berpolitik “Divide et Impera”
  • Rilis Dipo Tak Pengaruhi Persepsi Istana Episentrum Korupsi
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat