Laporan Wartawan Tribun Medan
TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Sehari jelang May Day, personel kepolisian dari Satuan Sabhara dan Brimob Polda Sumut sudah berjaga di objek vital, termasuk akses menuju Bandara Polonia, Senin (30/4/2012).
Pantauan Tribun, ratusan personel sudah tampak berjaga di depan Bandara Internasional Polonia Medan.
Tampak pula spanduk besar bertuliskan "Medan Kampoeng Kita, Mari Kita Jaga Bersama. Unjuk Rasalah dengan Tertib dan Damai" terpampang di billboard depan bandara.
Personel mendirikan tenda camping di tengah-tengah bundaran taman depan bandara. Belasan personel terlihat duduk di bawah tenda. Personel lain juga tampak di sepanjang kawasan Jalan Imam Bonjol, tak jauh dari bandara.
Beberapa kendaraan taktis juga sudah terlihat di lokasi, seperti water canon, mobil pemadam kebakaran, ambulans dan mobile security barrier. Namun, security barrier (kawat pengaman) belum terlihat dipasang.
Di Jalan Perhubungan Udara dan Jalan Mustang, akses menuju bandara, puluhan personel dan kendaraan taktis juga sudah siaga.
Di Kantor Gubernur Sumut juga sudah siaga kendaraan taktis, peralatan Dalmas, serta ratusan personel di dalam dan di depan kantor. Sebagian personel terlihat tiduran-tiduran, membaca koran serta berbincang-bincang satu dan lain.
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Raden Heru Prakoso, mengatakan Polda Sumut mengerahkan 700 personel Shabara dan Pasukan Anti Huru Hara (PHH) Brigadir Mobil (Brimob) serta mobil water canon, mobile security barrier dan baracuda.
Selain personel Polri, prajurit TNI juga disiagakan dengan sifat on call (standby).
"Sebanyak tujuh satuan setingkat kompi (SSK) atau sebanyak 700 personel dikerahkan untuk pengamanan di Bandara Internasional Polonia Medan. Jumlah tersebut juga termasuk prajurit TNI, namun sifatnya on call (stand by) di komandonya masing-masing," kata Heru dalam coffee morning bersama wartawan di Restauran Tip Top, Jalan Ahmad Yani, Medan, Senin.
Heru mengatakan jumlah keseluruhan personel yang diturunkan di semua wilayah Sumut sebanyak 1/3 kekuatan atau 6.000 personel dengan cadangan personel juga 1/3 yang bersiaga di komando untuk bersiap sewaktu-waktu jika diperlukan.
Objek vital lain, seperti Kantor Gubernur Sumatera Utara dikerahkan sebanyak tiga SSK, DPRD Sumut dua SSK, DPRD Medan sebanyak satu SSK, Bundaran Majestik dua SSK, Lapangan Merdeka sebanyak dua SSK, Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumut satu SSK, BPN Medan satu SSK, Dinas Tenaga Kerja Satu SSK, Pengadilan Negeri (PN) Medan dan Pengadilan Tinggi (PT) Sumut diamankan dua satuan setingkat peleton (SSP) atau 10-20 personel.
Sesuai protap itu, jika aksi unjuk rasa masih lampu hijau, artinya masih damai, maka polisi hanya melakukan pengawalan. Kalau kuning, artinya sudah tidak tertib, maka Dalmas (Pengendalian Massa) bergerak dengan tameng dan tongkat dan menggunakan senjata laras licin untuk melontarkan gas air mata.
Bila eskalasi meningkat menjadi merah, ada pelanggaran hukum dan aksi anarkis, maka Dalmas diganti Polisi Anti Huru Hara (PHH) Brimob. Kalau tetap anarkis dan tidak diindahkan imbauan petugas supaya tidak melakukan tindakan anarkis, PHH memberikan tembakan peringatan ke atas tiga kali (peluru hampa).
Kalau masih tetap anarkis, diperingatkan lagi melalui toa untuk berhenti, namun jika tidak berhenti juga, maka akan dilakukan tembakan pantul ke bawah (peluru karet) tiga kali dan akan disampaikan akibatnya melalui pengeras suara kepada pengunjuk rasa.
"Mohon kepada massa untuk berhenti, kalau tidak kami akan melakukan tembakan pantul, yang berdampak melukai," ujar Heru mencontohkan imbauan itu.
Selanjutnya, jika tidak juga berhenti anarkis, akan diberikan peringatan keras, yaitu tembakan sasaran pinggang ke bawah.
"Ini juga akan dikasih tahu dampaknya yang bisa berakibat kematian," ujar Heru, sembari mengatakan pasukan mengendara trail Reimas (cerai berai massa) akan turun membubarkan paksa. "Ini tak terbatas, sampai suasana aman," katanya.
Ketua DPD SBSI 1992 Pahala Napitupulu mengatakan pihaknya menurunkan ribuan buruh dalam unjuk rasa May Day.
"Besok (Selasa) 10 ribu buruh turun, dan kita akan berkumpul di Lapangan Benteng, dan setelah kumpul pukul 11.00, kita akan longmarch (jalan kaki) menuju Bandara Polonia Medan," katanya.
Ia mengatakan pihaknya tidak gentar dengan larangan Kapolda Sumut yang tidak memperbolehkan unjuk rasa di sekitar areal Bandara Polonia.
"Kita punya hak untuk melakukan aksi demonstrasi di sana, agar presiden dan masyarakat internasional mengetahui tuntutan kita. Kita sering melakukan demosnstrasi ke DPRD, namun tidak ada jalan keluar, tentang nasib buruh, mereka hanya janji-janji saja, tapi realisasinya tidak terbukti, makanya Polonia kita pilih," katanya.



Yahoo! OMG