Polling: Setengah dari Warga Australia Ingin Akhiri Imigrasi

Sydney (AFP/ANTARA) - Sekitar 50 persen warga Australia menginginkan diakhirinya program imigrasi negara, karena mereka percaya negara tersebut sudah terlalu padat, kutip hasil jajak pendapat pada Selasa.


Survei pada 2.000 orang, yang dilakukan untuk koran Sydney Daily Telegraph, menunjukkan bahwa 51 persen orang berpikir "penduduk kita terlalu banyak (dan) kita harus menghentikan imigrasi".


Australia memiliki sekitar 23 juta orang, dibandingkan dengan 19,6 juta orang pada 10 tahun lalu.


Canberra mengatur program imigrasi untuk tahun ini sampai Juni pada 185.000 tempat, dengan 13.750 slot lain tersedia untuk pengungsi atas dasar kemanusiaan.


Namun dalam jajak pendapat itu hanya 32 persen responden merasa Australia harus menyambut imigran lebih banyak dan hampir dua pertiga, sekitar 65 persen, berkata "migran harus mengadopsi gaya hidup penduduk Australia".


Tanggapan tersebut berubah drastis dari sikap yang lebih toleran dari survei sebelumnya yang dilakukan pada 2005, 2001 dan 1995, kata surat kabar itu.


Ahli imigrasi Bob Birrell mengatakan kekhawatiran atas keamanan kerja dalam perekonomian global yang goyah serta tekanan lokal pada infrastruktur merupakan penyebab perubahan opini tersebut.


Jajak pendapat itu terjadi saat dua kapal pencari suaka membawa 82 penumpang yang dicegat di Australia utara pada Senin -- jumlah kapal yang tiba berjumlah empat buah dalam beberapa hari.


Sebanyak 42 kapal yang membawa 3.261 pencari suaka sudah tiba pada tahun ini, menyebabkan anggaran penahanan pengungsi Australia naik lebih dari 1 miliar dolar Australia (setara Rp9,2 triliun).


Meskipun mereka datang dalam jumlah yang relatif kecil dari standar global, isu pencari suaka adalah isu politik di Australia, mendominasi pemilihan umum nasional pada 2010, ketika rekor 6.555 orang imigran tiba dari Asia.


Menteri Imigrasi Chris Bowen mengatakan kesibukan pada tahun ini "tidak mengejutkan" mengingat gagalnya kesepakatan pertukaran pengungsi yang direncanakan dengan Malaysia pada 2011 dimaksudkan untuk mencegah penyelundupan manusia.


Pemerintah terpaksa mengurangi proses terhadap pencari suaka dan melepaskan banyak tahanan untuk hidup dengan masyarakat setelah usaha oposisi konservatif menghalangi upaya untuk mendukung putusan itu.


Bowen mengatakan pentingnya untuk mencari cara pencegahan yang lebih efektif untuk menghentikan orang-orang mengarungi perjalanan laut yang berbahaya, biasanya dari Indonesia.


"Anda akan terus melihat orang yang tiba dengan perahu yang berarti anda akan terus melihat kematian di laut," katanya. (as/ik)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.