Penghargaan buat SBY

Prandelli Membawa Ketenangan bagi Italia

Krakow, Polandia (AFP/ANTARA) - Mungkin di luar Italia nama Cesare Prandelli kurang populer dan beberapa bahkan mungkin akan terkejut bahwa mantan punggawa Juventus yang pendiam dan modis itu menempati posisi pelatih tim nasional.


Dia tidak memiliki profil tinggi layaknya pelatih papan atas Italia lainnya seperti pelatih Irlandia Giovanni Trapattoni, pelatih Manchester City Roberto Mancini, mantan bos Inggris Fabio Cappello, atau bahkan pelatih Paris Saint-Germain Carlo Ancelotti.


Dia juga tidak memiliki catatan prestasi yang memukau, setelah hanya memenangi gelar divisi dua dengan Verona pada musim 1998-99.


Tetapi dia memiliki gaya, kualitas, dan profesionalisme, kualitas yang sama juga dia tunjukan ketika bermain sebagai pemain Si Nyonya Tua dan Atalanta.


Dan setelah beberapa pertandingan, ia mungkin memiliki catatan prestasi yang tampak jauh lebih baik, tentu jika playmaker Andrea Pirlo terus dalam bentuk terbaiknya.


Setelah pensiun sebagai pemain pada 1990, Prandelli berpaling kepada pembinaan dan mulai menjalankan kariernya sebagai pelatih di Parma pada 2002, yang mengantarkan klub tersebut berturut-turut menempati urutan kelima meski kala itu sedang dilanda pailit.


Pencapaian tersebut membuatnya berkesempatan pindah ke Roma pada 2004, tetapi musibah pribadi membuat dia tidak pernah mengambil alih klub, setelah istrinya, Manuela, didiagnosa menderita kanker payudara.


Prandelli meninggalkan klub tersebut untuk merawat istrinya, dan akhirnya kembali bekerja di Fiorentina.


Dia mengantarkan klub itu ke Liga Champions dua musim berturut-turut dan hasil yang mengesankan di lapangan tetapi Manuela menyerah pada penyakitnya.


Sebagai pelatih, Prandelli telah memperkenalkan kode etik disiplin yang ketat untuk tim nasional, bahkan termasuk pemain bintang dari skuad untuk perilaku buruk atau suspensi.


Selain itu, ia telah membawa ketenangan dan tidak banyak menonjolkan perannya, serta ketajaman taktis, sesuatu yang sangat langka dalam sosok seorang pelatih Italia pada umumnya.


"Saya ingat pada awal petualangan ini, kritikus mengatakan bahwa kita tidak memiliki pemain bertahan yang baik lagi, tapi kami memiliki catatan pertahanan terbaik di fase kualifikasi," katanya.


Ia adalah tokoh yang tidak hanya populer di ruang ganti tetapi juga di kalangan petinggi sepakbola Italia, yang mengaku sebelum turnamen akan mempertahankan ia terlepas dari hasil yang dicapai Italia. (nm/jk)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.