Jakarta (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta adanya sistem logistik nasional yang lebih efisien agar tidak menghambat pergerakan barang dan jasa sehingga biaya komoditas yang dibutuhkan masyarakat dapat lebih murah.
"Saya membicarakan bagaimana membuat logistik kita bisa makin efisien, apalagi ada daerah di bagian timur Indonesia yang harga barang dan jasanya begitu mahal karena logistik nasional belum sesuai harapan kita," ujarnya seusai rapat terbatas bidang ekonomi di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.
Presiden mengatakan, saat ini waktu bongkar muat barang di pelabuhan masih terlalu lama dibandingkan negara lain seperti Singapura dan di masa mendatang hal tersebut diharapkan dapat dibenahi agar kelancaran barang dan jasa lebih terjamin.
"Sejak barang masuk kapal sampai barang keluar dari pelabuhan lagi itu dianggap masih lama, dibanding Singapura. Kalau dulu enam hari sekarang sudah jadi 3,5 hari. Tapi saya minta untuk dipercepat lagi agar setara dengan negara lain," ujarnya.
Menurut Kepala Negara, apabila kecepatan sistem logistik dapat ditingkatkan, maka potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk meningkat lebih baik dan lebih tinggi sangat besar.
"Kalau setara, akan lebih besar potensi kita untuk tumbuh lebih besar," ujarnya.
Selain itu, Presiden juga mengharapkan adanya pembangunan infrastruktur seperti bandara dan pelabuhan yang memiliki akses internasional karena dapat mendukung dan meningkatkan konektivitas antarpulau serta negara.
"Ini perlu dipastikan pembangunan bandara dan pelabuhan akan terus meningkat sejalan dengan kapasitas ekonomi kita ke depan, selain sejalan dengan kehadiran pengawasan dari bea cukai, imigrasi, dan karantina," katanya.
Untuk itu, ia menginginkan dan mendorong keterlibatan swasta dan negara dalam penyediaan sarana infrastruktur, yang secara tidak langsung juga dapat memperlancar distribusi barang dan jasa.
"Ini perlu dipikirkan, entah BUMN, swasta, regulator, maupun Kementerian Perhubungan manakala menambah infrastruktur, baik bandara maupun pelabuhan laut," kata Presiden. (ar)


