Presiden Myanmar Tunda Kunjungan ke Bangladesh

Dhaka (AFP/ANTARA) - Presiden Myanmar Thein Sein menunda rencana kunjungan pertengahan Juli ke Dhaka karena kekerasan sektarian di negara bagian barat Rakhine, kata seorang pejabat kementerian luar negeri Bangladesh, Minggu.

Presiden telah meminta penjadwalan ulang lawatan ke Bangladesh setelah bulan suci Muslim Ramadhan, yang dimulai pada pekan ketiga Juli, kata Menteri Luar Negeri Bangladesh Mijarul Quayes mengatakan kepada wartawan.

"Presiden Myanmar tidak datang pada pertengahan Juli. Kami sekarang bekerja untuk menjadwalkan tanggal baru setelah Ramadhan," katanya seraya menambahkan kedua negara akan menandatangani beberapa

perjanjian selama kunjungan tingkat tinggi itu.

Myanmar mengatakan, presiden tidak bisa bepergian ke luar negeri karena keadaan darurat telah terjadi di negara bagian Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh, kata Quayes.

Dia menambahkan bahwa Presiden Thein Sein secara "pribadi" meninjau situasi di wilayah tersebut.

Negara bagian Rakhine berbatasan dengan Bangladesh, telah diguncang oleh kerusuhan, pembakaran dan siklus serangan balas dendam yang melibatkan warga Budha Rakhine dan Muslim Rohingya bulan lalu, yang memicu kecemasan internasional.

Lebih dari 80 orang tewas dalam kekerasan itu, dengan sporadis

wabah kekerasan masih terjadi, kata pemerintah Myanmar, yang sebelumnya dikenal sebagai Burma.

Pemimpin Myanmar dan Bangladesh akan membahas masalah pengungsi Rohingya dan kerusuhan terkait dekat perbatasan mereka selama kunjungan 15-17 Juli, kata Duta Besar Dhaka di Yangon, Mayor Jenderal Anup Kumar Chakma kepada AFP pekan lalu.

"Diharapkan masalah pengungsi Myanmar akan dibahas dengan lebih

serius kali ini," katanya.

Sekitar 800.000 Rohingya hidup di Myanmar, menurut PBB, yang memandang mereka sebagai salah satu minoritas dunia yang paling dianiaya.

Dalam beberapa pekan terakhir Bangladesh telah membalikkan ratusan Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar meskipun ada tekanan dari Amerika Serikat dan Kelompok HAM untuk memberikan mereka perlindungan.

Negara Asia Selatan yang miskin itu adalah rumah bagi pengungsi Rohingya diperkirakan mencapai 300.000 orang.

Berbicara dengan dialek Bengali mirip dengan salah satu di tenggara Bangladesh, Rohingya dianggap sebagai imigran gelap oleh pemerintah Myanmar dan banyak warga Burma mendorong mereka untuk mencoba melarikan diri ke negara ketiga dengan perahu-perahu reyot. (ar)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.