Paris (ANTARA/SANA-0ANA) - Presiden Prancis Francois Hollande mengakui keberadaan teroris Prancis di Suriah dan bersumpah untuk memburu teroris di Prancis dan menghilangkannya.
Dalam wawancara dengan saluran France 24 dan jaringan TV5 Monde pada Kamis, Hollande mengatakan, "Kami bahkan telah mempelajari bahwa ada ekspatriat Prancis di Mali, di Somalia, seperti yang kita telah ditemukan di Suriah, yang kemudian bisa kembali ke negara dengan tujuan teroris. Saya tidak bisa membiarkan itu."
Dia memperingatkan kemungkinan ada beberapa sel-sel teroris di yang berkembang di dalam negeri Prancis dan "tidak ada hubungannya" dengan pihak-pihak asing.
"Kami tidak akan membiarkan mereka pergi, kami akan memburu mereka dan menghilangkan mereka," kata Hollande kepada France 24.
Ikrarnya terjadi setelah pembongkaran sel teroris yang merencanakan serangan di Perancis.
Dalam konteks yang sama, Jaksa Paris Francois Molins menekankan bahwa tersangka anggota sel Islam, dibongkar Sabtu lalu, dan mereka berencana untuk bergabung dengan pertempuran di Suriah.
Sejumlah negara Barat, terutama Prancis dan Inggris, baru-baru ini menyaksikan kenaikan dalam kegiatan kelompok radikal yang terjadi sejalan dengan meningkatnya proses perekrutan kelompok garis keras untuk berperang di daerah lain di dunia.
Kantor Luar Negeri Inggris Rabu mengakui bahwa kelompok garis keras Inggris berniat untuk bergabung dengan pertempuran di Suriah.
Lembaga peradilan Belgia juga telah membuka penyelidikan jaringan yang terlibat dalam menghimpun tentara bayaran guna dikirim untuk bertempur di Somalia. (tp)

