Jakarta - Produsen benih hortikultura menyatakan kesiapan mereka mendukung petani dalam bentuk pengadaan benih unggul pascakebijakan pemerintah untuk membatasi impor hortikultura.
"Kami sangat menyambut positif kebijakan pemerintah dengan menjamin ketersediaan benih unggul yang dibutuhkan petani," kata Ketua Asosiasi Produsen Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo), Afrizal Gindow di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, ketersediaan benih unggul akan membuat petani tidak menemui kesulitan dalam menjamin ketersediaan produk hortikultura menggantikan produk impor yang di beberapa daerah sudah dihentikan pemerintah.
Pemerintah mulai 29 Juni 2012 menutup Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu masuk impor hortikultura, didasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 42 Tahun 2012 tentang teknis dan tindakan karantina tumbuhan, buah-buahan, dan sayuran segar.
Pemerintah juga mengatur pembatasan impor hortikultura melalui Permentan nomor 43 tahun 2012 tentang syarat dan tindakan karantina sayuran umbi lapis segar.
Setelah Tanjung Priok ditutup, impor hortikultura hanya diperbolehkan melalui Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Makasar, serta Bandara Soekarno Hatta.
Hanya tiga pelabuhan yang ditetapkan pemerintah bisa menjadi pintu masuk yakni Pelabuhan Batam, Karimun, dan Bintan itupun karena merupakan pelabuhan perdagangan bebas.
Pembatasan impor hortikultura juga disampaikan melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 30 tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura yang akan diterbitkan September 2012 tentang rekomendasi impor produk hortikultura.
Afrizal mengatakan, sebenarnya selama ini kebutuhan hortikultura untuk sayuran dapat dipenuhi dari petani di dalam negeri, sehingga pembatasan ini sangat disambut baik untuk terus meningkatkan pasokan dan keragaman produk.
Saat ini produsen benih hortikultura nasional terus mengembangkan lahan pertanian tidak hanya di perdesaan tetapi juga memanfaatkan lahan terbatas di perkotaan sehingga tetap terjamin ketersediaan pasokan di pasar, lanjut Afrizal.
Afrizal mengatakan, produsen benih anggota Hortindo siap menyediakan benih unggul agar memberi nilai tambah meliputi produksi lebih maksimal dan tahan terhadap penyakit serta memberikan pelatihan bagi petani.
"Saat ini benih hibrida hortikultura sebagian besar sudah tersedia di Indonesia, hanya tinggal produk hortikultura untuk item tertentu saja yang masih impor, itupun untuk pasar ekslusif dan memang benihnya tidak bisa diproduksi disini terkait iklim," ujar dia.
Kendala selama ini untuk ketersediaan produk hortikultura di Indonesia terkait penyakit seperti yang belum lama ini terjadi menyerang tanaman tomat, sebenarnya dapat dihindarkan seandainya petani menggunakan benih unggul dan rajin untuk merawat tanaman.
Sejumlah perusahaan benih, mengeluarkan biaya tidak kecil untuk melakukan riset memproduksi benih yang tahan penyakit, minimal setiap lima tahun harus ada benih unggul baru yang dapat dimanfaatkan petani, ujar Afrizal yang juga menjabat Direktur Sales & Marketing PT East West Seed Indonesia (Ewindo).
Target pertumbuhan
Afrizal mencontohkan Ewindo sebagai produsen benih hibrida selama ini mentargetkan pertumbuhan 15 persen setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, namun dengan adanya kebijakan pemerintah pihaknya akan meningkatkan target menjadi 30 persen.
"Saya kira anggota Hortindo lainnya akan berpikiran sama terkait dengan kebijakan pemerintah menahan serbuan produk hortikultura impor. Sudah saatnya pemerintah berpihak ke petani," ujar dia.
Data statistik menunjukkan perkembangan impor buah dan sayur mengalami perkembangan yang sangat drastis. Pada 2008 nilai impor produk hortikultura baru mencapai 881,6 juta dolar AS, namun pada 2011 nilai impor produk hortikultura sudah mencapai 1,7 miliar dolar AS.
Salah satu penyebab sulit bersaingnya produk hortikultura Indonesia dibandingkan dengan produk impor adalah ketersediaan benih unggul yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil panen petani, jelas Afrizal.
Produsen benih masih kewalahan memenuhi tingkat permintaan benih industri hortikultura yang terus meningkat setiap tahun. Permintaan benih diproyeksi akan mencapai 13 ribu ton, sementara produsen benih hanya mampu menyuplai 6000-7000 ton.
Masalahnya investasi untuk mengembangkan industri benih unggul cukup besar, selain itu kegagalan dalam riset dan pengembangan juga masih sangat tinggi sehingga diperlukan modal yang sangat besar dan memerlukan waktu pengembalian modal panjang.
Salah satu jalan keluar yang perlu dipertimbangkan adalah membuat industri benih menarik buat investor agar mau membangun lahan benih (nursery) di Indonesia.
"Indonesia memiliki banyak potensi varietas lokal yang jika dikembangkan mampu bersaing dengan produk hortikultura dari negara lain," ujar Afrizal. (tp)

