Berburu Harta Luthfi

Produsen Minyak Sawit Ternama Indonesia Ingin Lebih Banyak Penyulingan

  • Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi

    Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi

    Tempo
    Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri menyiapkan dua langkah untuk meredam inflasi. Langkah ini diambil menyusul rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

  • Emas Jatuh Jelang Kesaksian Bernanke di Kongres

    Antara

    Chicago (ANTARA/Xinhua) - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange jatuh pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor tetap berhati-hati menjelang kesaksian Ketua Federal Reserve Ben Bernanke tentang prospek ekonomi AS di Kongres pada Rabu. Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni turun 6,5 dolar AS, atau 0,47 persen, menjadi menetap di 1.377,6 dolar AS per ounce. Bernanke pada Rabu akan memberikan keterangan tentang prospek ekonomi AS, sementara Komite Pasar

  • 22 Bank Dilibatkan dalam Program Pembiayaan Rumah  

    22 Bank Dilibatkan dalam Program Pembiayaan Rumah  

    Tempo
    22 Bank Dilibatkan dalam Program Pembiayaan Rumah  

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perumahan Rakyat dengan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF melibatkan delapan bank nasional dan 14 bank pembangunan daerah dalam program kredit pemilikan rumah fasilitas likuiditas pembangunan perumahan (KPR FLPP). Ini tercatat dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua pihak hari ini, Rabu, 22 Mei 2013, di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Oleh Michael Taylor and Niluksi Koswanage and Chew Yee Kiat | Reuters

Selama berpuluh-puluh tahun, Indonesia telah mengirim berton-ton minyak sawit mentah untuk diproses menjadi minyak goreng dengan nilai yang lebih tinggi dan margarin di Rotterdam, Mumbai dan Kuala Lumpur.

Kini, produsen nomor satu di dunia dari minyak nabati tersebut memiliki investasi senilai lebih dari $ 2,5 miliar (sekitar Rp 24 triliun) untuk membangun industri penyulingan yang akan menggandakan kapasitas dan berarti itu bisa memasok kebutuhan seluruh konsumen makanan terbanyak di Asia — India dan Cina.

Transformasi tersebut, yang didorong oleh langkah Indonesia untuk memangkas pajak ekspor untuk minyak olahan Oktober lalu, akan semakin memanaskan persaingan dengan pesaing seperti Malaysia dan memberikan gelombang dalam pasar minyak sawit karena tekanan harga pasokan baru dari produk olahan yang diperdagangkan seperti palmolein baru, digunakan sebagai minyak goreng.

Sebuah survei yang dilakukan Reuters terhadap 30 perusahaan yang beroperasi di Indonesia — dari perusahaan minyak sawit terbesar di dunia, Wilmar, hingga konglomerat Unilever — menunjukkan rencana untuk menaikan kapasitas penyulingan hampir dua kali lipat menjadi 43 juta metrik ton (47.390.000 ton) minyak sawit, atau 80 persen dari total produksi dunia.

"Pemerintah mengirim pesan yang jelas — untuk bertahan, Anda perlu kilang. Jadi perusahaan minyak kelapa sawit mengalokasikan uang mereka dan mengikuti tokoh-tokoh penting dalam industri yang sebelumnya telah melakukannya," kata Thomas Mielke, seorang analis di publikasi industri tersebut, Oil World.

"Ada ancaman kelebihan kapasitas. Namun perusahaan minyak sawit dengan seluruh rantai pasokan yang mendukungnya, jika kita memiliki perkebunan, pabrik, dan pelabuhan, kita akan menjadi raja."

Tangki penyimpanan berwarna perak berkilau yang berdiri tegak setinggi sepuluh lantai menjadi pemandangan biasa dari lanskap Indonesia karena banyak kilang yang bermunculan, mengancam pengolahan minyak sawit yang dilakukan oleh negara tetangga Malaysia, yang merupakan produsen minyak sawit nomor dua tertinggi dunia.

Di sebuah kilang baru yang dibangun dekat Jakarta, para staf terlihat mengenakan masker dan penutup rambut. Mereka bekerja pada ban berjalan yang membawa kotak margarin dan minyak goreng.

Pabrik Marunda yang bernilai $ 249 juta (Rp 2,5 triliun) yang dikelola oleh PT SMART diluncurkan sebelum perubahan pajak dan perusahaan minyak sawit terbesar di Indonesia tersebut berencana untuk mengeluarkan biaya tambahan sebesar $ 200 juta (Rp 2 triliun) untuk kapasitas penyulingan baru meskipun berhadapan dengan masalah infrastruktur.

PT SMART akan menjadi salah satu investor terbesar di sektor ini bersama dengan Wilmar dan Musim Mas, yang berencana untuk menghabiskan $ 860 juta (Rp 8 triliun), menurut survei.

Pejabat pemerintah di Malaysia dan Indonesia mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut telah secara agresif melobi Jakarta untuk memotong beban pada minyak kelapa sawit sebesar setengah dari beban yang dikenakan pada minyak mentah.

Sebagian besar ekspansi tersebut  dipimpin oleh perusahaan-perusahaan milik taipan kuat di Indonesia. SMART dikendalikan oleh keluarga Eka Tjipta Widjaja, yang menciptakan sebuah kerajaan kelapa sawit yang merintis dari bawah mulai dengan menjajakan biskuit menggunakan gerobak.

Perusahaan-perusahaan asing berada tidak jauh di belakang. Pedagang komoditas Louis Dreyfus membentuk usaha patungan dengan pengusaha perkebunan seperti Kencana Agri yang berada di Singapura untuk membangun kilang di Indonesia.

Sampai saat ini, Indonesia memfokuskan diri pada pengembangan perkebunan. Perkebunan kelapa sawit memiliki luas sekitar 8,2 juta hektar dan budidaya mereka sering disalahkan karena dianggap merusak hutan.

Menurunkan harga

Kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling banyak diperdagangkan dan dikonsumsi di dunia. Kegunaannya terutama sebagai bahan dalam makanan seperti biskuit dan es krim, atau sebagai biofuel.

Selama beberapa dekade, minyak goreng sawit sulingan memiliki premi 5-10 persen lebih besar dari minyak sawit mentah. Tapi dengan semakin banyaknya pasokan Indonesia, operasi penyulingan yang tidak efisien dapat tertutup.

Di sisi lain, kompetisi yang lebih besar dapat mengurangi biaya produk akhir untuk kepentingan konsumen di India dan Cina, di mana inflasi makanan selalu menjadi perhatian bagi pembuat kebijakan. Sejauh tahun ini, harga minyak goreng sawit telah jatuh hampir 10 persen pada pasokan Indonesia yang lebih tinggi.

Di bawah rencana penyulingan, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sekitar 10 juta ton metrik per tahun serta memasok 20 juta ton metrik gabungan impor minyak goreng yang dibutuhkan oleh pembeli besar.

Produksi minyak sawit mentah Indonesia — diperkirakan mencapai 23-25 juta metrik ton pada 2012 — tampaknya akan melampaui rencana kenaikan kapasitas penyulingan dalam dua tahun ke depan.

Itu berarti beberapa perusahaan kelapa sawit mungkin membangun kilang yang mengolah dengan kapasitas yang lebih rendah hingga pasokan minyak nabati yang lebih banyak datang.

Analis DBS, Ben Santoso, mengatakan pendatang baru bisnis penyulingan di Indonesia bisa melihat margin dirampingkan sampai $ 40 (Rp 380 ribu) per ton dari $ 70. Meskipun masih terhitung sehat jika dibandingkan pesaing utamanya.

"Kapasitas dari beberapa perusahaan yang lebih kecil akan berubah stagnan. Tapi jangan lupa, margin penyulingan Malaysia hanya sebesar $ 9-10 per ton," tambahnya.

Tekanan bagi Malaysia dan India

Seiring dengan Indonesia yang bergegas untuk membangun kilang, penyuling minyak sayur di Malaysia dan India merasa tertekan.

"Saya tidak bisa tidur di malam hari. Saya telah menutup 30-40 persen pabrik saya dan saya berharap tidak akan menutup lebih banyak lagi," kata sebuah pengusaha kilang di Johor, Malaysia.

Malaysia saat ini memiliki 22,9 juta ton metrik kapasitas penyulingan, dan hanya sekitar tiga perempat dari jumlah tersebut digunakan tahun lalu dari rekor 90 persen pada 2005.

Dan hal tersebut terlihat jelas pada ekspor. Jumlah gabungan ekspor minyak goreng sawit Malaysia pada April dan Mei turun 19 persen menjadi sekitar 1 juta ton metrik dari tahun lalu, menurut pengamat kargo.

Pengiriman minyak goreng sawit Indonesia melonjak 55 persen pada periode yang sama hingga hampir 600 ribu ton metrik.

Malaysia bisa merespon dengan menghilangkan kuota ekspor bebas pajak untuk kelapa sawit yang digunakan untuk menyokong pabrik di luar negeri dari beberapa perusahaan atau mereplikasi sistem pajak Indonesia untuk tingkat lapangan.

Kedua pilihan tersebut berisiko secara politik dengan pemilu yang semakin dekat, karena mereka memerlukan pajak minyak sawit mentah yang di Malaysia sebagian besar dihasilkan oleh petani kecil yang merupakan pemilih yang berjumlah besar dan berada di bawah kuota ekspor bebas pajak.

Untuk memanfaatkan perubahan pajak ekspor Indonesia, perkebunan besar asal Malaysia Sime Darby sedang membangun kilang di Indonesia. KL Kepong dan IOI Corp diperkirakan akan menyusul.

India, pembeli minyak goreng terbesar di dunia, telah menampik imbauan industri untuk menaikkan bea masuk pada minyak kelapa sawit untuk membendung masuknya barang murah dari Indonesia karena takut memicu inflasi.

India saat ini membebankan pajak 7,5 persen pada minyak kelapa sawit dari Indonesia. Tapi itu pun masih $ 15 per ton lebih murah untuk mengimpor minyak sawit olahan Indonesia daripada untuk mengirimkan dalam bentuk mentah dan menyulingnya, ujar pedagang minyak sawit.

"Sebelum Indonesia mengubah pajak ekspor, banyak penyuling melakukan perluasan pabrik-pabrik mereka," kata Ashok Sethia, Presiden Solvent Extractors Association of India.

"Sekarang semua rencana tersebut telah ditinggalkan," tambahnya.

Minyak goreng sawit sulingan dulu berada di bawah angka 5 persen dari total impor dan sekarang menyumbang hampir 20 persen dari 883.410 ton metrik dikirim ke India pada Mei.

Ini akan membuat sulit India untuk menjaga kapasitas pengolahannya sebesar 15 juta ton metrik.

Kebijakan sensitif
Minyak sawit hanya bagian dari upaya Indonesia untuk menarik investasi dan mendapatkan lebih dari sumber daya pertanian dan mineral, kebijakan yang kadang-kadang menjadi bumerang.

Pada Mei, Indonesia mengenakan pajak 20 persen pada beberapa ekspor bijih logam dan memerintahkan kepada penambang untuk memberikan rencana untuk membangun pabrik pencairan atau mengolah bijih di dalam negeri. Pemerintah mengatakan, hal ini akan membantu RI memperoleh penghasilan lebih, meskipun serikat pekerja penambang mengatakan telah memecat lebih dari 200 ribu pekerja gara-gara putusan itu.

Pajak minyak sawit diperkenalkan pada tahun 1994 dengan tujuan untuk memastikan ketersediaan minyak goreng berbasis kelapa sawit.

Tapi sistem tersebut berantakan ketika mata uang rupiah ambruk saat krisis keuangan Asia di akhir 1990-an, mendorong perusahaan minyak sawit untuk mengekspor lebih banyak dan memicu kekacauan pasokan makanan rumah tangga.

Dengan pemikiran ini, pajak atas ekspor minyak sawit mentah dipertahankan jauh lebih rendah daripada minyak sulingan untuk menopang pasokan domestik. Hal itu membuat frustrasi industri pengolahan dengan banyak perusahaan berpikir untuk keluar dari Indonesia pada 2010 dan 2011. Demikian dikatakan Sahat Sinaga, direktur eksekutif Asosiasi Penyulingan Minyak Sayur Indonesia.

"Jika pemerintah tidak mengambil tindakan, kita akan tetap hanya menjadi eksportir minyak sawit mentah dan memperoleh keuntungan yang lebih sedikit," kata Sinaga.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Artikel Bisnis Terpopuler

POLL

Yakinkah Anda, wanita-wanita yang terlibat dengan Ahmad Fathanah akan dikenakan sanksi hukum?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat