Qantas Selidiki Penyebab Kerusakan Mesin pada Pesawatnya

  • Emas Naik karena Aksi "Short Covering"

    Antara

    Chicago (ANTARA/Xinhua) - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada Senin (Selasa pagi WIB) karena aksi "short-covering" (pembelian kembali emas yang telah dijual), menghentikan penurunan tujuh sesi berturut-turut. Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni, naik 19,4 dolar AS, atau 1,42 persen, menjadi menetap di 1.384,1 dolar AS per ounce. Penurunan di pasar saham AS dan dolar yang bergerak melemah berkontribusi pada kenaikan emas pada Senin, kata para

  • Pengguna Internet Ilegal, Ratusan Miliar Hilang

    Pengguna Internet Ilegal, Ratusan Miliar Hilang

    Tempo
    Pengguna Internet Ilegal, Ratusan Miliar Hilang

    TEMPO.CO, Surabaya-Kepala Direktorat Jenderal Penyelanggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi Syukri Batubara mengungkapkan negara dan operator penyelenggara telekomunikasi rugi ratusan miliar akibat ulah pengguna internet ilegal.

  • Gadis Bercadar Jadi Tersangka Pemotong 'Burung'  

    Gadis Bercadar Jadi Tersangka Pemotong 'Burung'  

    Tempo
    Gadis Bercadar Jadi Tersangka Pemotong 'Burung'  

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Masih ingat dengan kasus pemotongan alat vital yang dialami Abdul Muhyi, 21 tahun, sepekan lalu? Pada Selasa subuh, 14 Mei lalu, Muhyi datang ke Puskesmas Pamulang dalam kondisi selangkangan berdarah. Ternyata kemaluannya sudah terpotong.

Sydney (AFP/ANTARA) - Maskapai penerbangan asal Australia, Qantas Airways pada Senin mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki penyebab dari insiden yang dialami oleh salah satu pesawatnya, sebuah jet Airbus yang membawa 254 penumpang yang mengalami masalah mesin di Perth.


Dalam insiden yang terjadi pada Minggu, pesawat A330 bermesin ganda, yang terbang dari Sydney, mengalami "sebuah gagal sistem kendali mesin, " ujar maskapai itu.


"Para insinyur sedang menyelidiki penyebabnya," ujar juru bicara maskapai tersebut, seraya menambahkan bahwa pesawat tersebut mendarat dengan aman dan tanpa insiden.


Juru bicara itu tidak dapat mengonfirmasi laporan bahwa salah satu mesin pesawat itu mati, dan memaksanya menjadi "mode siaga" pada ketinggian 3.000 kaki, mengatakan ini akan menjadi bagian dari penyelidikan.


Qantas sedang berjuang dengan melonjaknya biaya bahan bakar dan memburuknya kondisi global dan baru-baru ini mencatatkan penurunan laba sebelum dipotong pajak yang diperkirakan akan turun dari 552 juta dolar Australia (sekitar Rp5,52 triliun) tahun lalu menjadi sekitar 50-100 juta dolar Australia (sekitar Rp500,24 miliar - 1,00 triliun).


Tapi maskapai tersebut memiliki reputasi yang bagus untuk keamanan, dengan belum pernah mengalami kecelakaan jet yang fatal selama 90 tahun.


Pada November 2010, sebuah mesin pesawat Qantas, Airbus A380 meledak setelah lepas landas dari Singapura tetapi pesawat kembali dengan selamat ke negara itu.(yg/ik)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.