Penghargaan buat SBY

Ramadhan Terpanjang di Korea (1)

REPUBLIKA.CO.ID,Mentari masih bertengger menghias langit biru di sebuah Negri bertajuk Ginseng, Korea Selatan. Sinarnya lantang menembus cakrawala. Mentari tak tanggung-tanggung menyinari negri ini dengan panas nya yang mencapai 35 derajat celcius. Tak beda jauh dengan kondisi Jakarta atau salah satu kota panas lain nya, Medan.

"What??? 35°C, real feel® 43°C, humidity 81%" mata saya membelalak seketika saat mendapati rangkaian kata dan angka yang memenuhi layar telepon selular saya. Subhanallah, panas nya luar biasa, ditambah dengan tingkat kelembaban yang hampir mencapai 100%. Tak ubahnya sedang berada di balik kuali yang tengah ditelungkupkan. Panas, pengap dan tak ada angin yang berhembus.

Korea yang dikenal dengan para K-Pop'ers dan drama nya ini memang cukup lembab. Suhu yang cukup tinggi dengan tingkat kelembaban yang juga tak kalah tinggi membuat musim panas di Korea sempurna. Sempurna membakar kulit dan membuat tenggorokan mengering.

"Harus pintar-pintar memilih baju" celoteh saya dalam hati. Tak seperti umumnya warga setempat yang dapat bernegosiasi dengan cuaca yang berlaku. Bercelana se-pendek-pendeknya dengan baju setipis-tipisnya hingga dapat melukiskan dengan jelas pakaian dalam yang dikenakan. Sebagai seorang wanita yang mengaku muslim, saya harus cerdik dalam berpakaian. Tetap menutup aurat namun juga nggak kepanasan.

Menjadi salah satu warga minoritas, sejatinya mengundang banyak mata dan ribuan pertanyaan yang sama dari setiap orang yang dijumpai. Saat semua orang mengenakan pakaian se-minim mungkin, saya malah bercelana panjang, dengan baju yang juga panjang dan sehelai kerudung yang membalut kepala. Cukup aneh bak seseorang yang sedang terserang demam tinggi di musim panas.

Berbalut celana jeans hitam, baju kaus ungu dan selembar kerudung berwarna senada membalut kepala, bismillah, saya keluar rumah dan menyatu dengan sengatan mentari yang kian menjadi. Kedua mata saya setengah memicing, berusaha melindungi retina dari sengat mentari yang semakin lugas. Berjalan menunduk, menyusuri pelataran kampus menuju satu departemen di sisi belakang kampus. Ya, Aerospace and Mechanical Engineering Department.

Belum lagi langkah ini mencapai seperempat kampus, rembesan keringat sudah menghias di permukaan baju kaus yang saya kenakan. Bulir-bulir keringat mulai menghias dahi, dagu dan hidung. Beberapa mahasiswa yang lewat tampak tak peduli dengan sengat mentari yang memanggang Negri yang terkenal dengan kimchi nya ini. Beberapa mereka hanya mengenakan celana pendek dan kaus oblong dan hanya mengenakan sandal. Bagi mereka mengenakan sandal ke kampus saat musim panas itu wajar.

 Mereka nggak tahu kalau mengenakan sandal ke kampus di Indonesia, bisa-bisa tak diijinkan mengikuti perkuliahan. Tak ada alasan "panas" untuk Indonesia yang dikenal "summer every day". Tak lain hal nya dengan para wanita. Mereka pun tak mau kalah, dengan memakai celana atau rok se-pendek mungkin dengan baju bertali satu atau se-tipis mungkin. Sebagian besar dari mereka akan menggenggam minuman dingin, ice cream atau sekadar kipas di sela-sela jari mereka.

 "Agashii, i go moheyo? anthowo?" tanya seorang ibu cleaning service yang tengah beristirahat di bawah sebuah pohon sembari tangan nya menunjuk ke arah kerudung yang saya pakai. Ia menanyakan "Hai gadis, itu apaan yang loe pake? nggak panas?" kira-kira begitulah kalau diterjemahkan dalam bahasa gaul Ibu kota.

Elvira Fidelia Tanjung
Kyung Hee University
Class of 2010 • Master of Engineering • Industrial Engineering • Management Information Systems • Yongin


Rubrik ini bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.