Realisasi Investasi Januari-September Tumbuh 27 Persen

  • Akibat Pembajakan, Indonesia Rugi Rp 4,5 Triliun Setahun  

    Akibat Pembajakan, Indonesia Rugi Rp 4,5 Triliun Setahun  

    Tempo
    Akibat Pembajakan, Indonesia Rugi Rp 4,5 Triliun Setahun  

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyebut masalah pembajakan karya musik di Indonesia telah begitu memprihatinkan. Dari total pengeluaran masyarakat untuk musik, hanya 10 persen yang tercatat dan lebih sedikit lagi yang sampai ke kantong para musikus.

  • Indonesia Siap Ambil Alih Teknologi-Manajemen Inalum

    Antara

    Kuala Tanjung (ANTARA) - Pemerintah Indonesia siap mengambil alih teknologi dan manajemen semua kepemilikan saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dari Jepang yang selama 30 tahun sebagai pemegang saham terbesar dan akan berakhir kontrak kerjasamanya pada 30 Oktober 2013. "Kita tidak bergantung dengan Jepang dan siap melanjutkan pembangunan PT Inalum melalui Badan Usaha Milik Negara mulai 1 Nopember 2013," tegas Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia PT Inalum Ir. Nasril Kamaruddin, MBA di

  • Produksi Gas Blok Natuna Mayoritas untuk Indonesia

    Produksi Gas Blok Natuna Mayoritas untuk Indonesia

    Tempo
    Produksi Gas Blok Natuna Mayoritas untuk Indonesia

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengaku telah menjalin kesepakatan kontrak eksplorasi gas di Blok East Natuna bersama PTT Exploration and Production. Kesepakatan tersebut terutama mengenai alokasi pembagian produksi gas.

Jakarta (ANTARA) - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) selama Januari-September 2012 mencapai Rp229,9 triliun, naik sekitar 27 persen dibanding realisasi periode sama 2011 sebesar Rp181 triliun.

"Peningkatan realisasi investasi dalam sembilan bulan 2012 ini menunjukkan bahwa iklim investasi di tanah air terus meningkat yang dapat mendorong kepastian berbisnis di Tanah Air," kata Kepala BKPM Chatib Basri, saat paparan "Reallisasi Investasi PMA-PMDN Triwulan III dan Januari-September 2012", di Gedung BKPM, Jakarta, Senin.

Menurut Chatib, kumulatif realisasi investasi periode Januari-September 2012 sebesar Rp229,9 triliun, terdiri atas PMDN sebesar Rp65,7 triliun dan realisasi PMA Rp164,2 triliun.

"Secara keseluruhan selama Januari-September 2012 terjadi upaya pemerataan investasi ke daerah-daerah di luar Jawa dan peningkatan peran PMDN telah menunjukkan hasil menggembirakan," ujar Chatib.

Hal ini diutarakannya, terlihat dari meningkatnya investasi yang dilakukan pengusaha nasional dan penyebaran kegiatan investasi oleh perusahaan asing dan PMDN di luar Jawa.

Realisasi PMDN berdasarkan sektor usaha, selama Januari-September 2012 terbesar adalah industri mineral non logam yang mencapai Rp9,1 triliun, pertambangan Rp8,6 triliun, industri makanan Rp7,7 triliun.

Selanjutnya investasi pada sektor usaha tanaman pangan dan perkebunan Rp6,3 triliun, industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik Rp5,8 triliun.

Berdasarkan lokasi, investasi PMDN terbesar terjadi di Jawa Timur dengan nilai Rp12 triliun, disusul Jawa Barat Rp8,8 triliun, DKI Jakarta 6,4 triliun, Kalimantan Timur Rp4,8 triliun dan Jawa Tengah Rp4,7 triliun.

Sementara investasi PMA terbesar di Jawa Barat 3,1 miliar dolar AS, DKI Jakarta 3 miliar dolar AS, Banten 1,8 miliar dolar AS, Kalimantan Timur 1,6 miliar dolar AS, dan Jawa Timur 1,4 miliar dolar AS.

Singapura terbesar


Adapun PMA berdasarkan asal negara, investor terbesar adalah Singapura yang menanamkan modal sebesar 3,5 miliar dolar AS, disusul Jepang 1,8 miliar dolar AS, Korea Selatan 1,3 miliar dolar AS, Inggris 0,9 miliar dolar AS, dan Amerika Serikat 0,7 miliar dolar AS.

"Singapura masih yang terbesar karena pusat sejumlah perusahaan dunia berada di negara itu," ujarnya.

Adapun lima sektor usaha realisasi tertinggi PMA meluputi Pertambangan 3,2 miliar dolar AS, disusul industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi 2,5 miliar dolar AS.

Selanjutnya sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi 1,9 miliar dolar AS, industri alat angkutan dan transportasi lainnya 1,3 miliar dolar AS, industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik 1,3 miliar dolar AS.

Chatib menuturkan, penyebaran investasi baik PMA maupun PMDN yang menunjukkan peningkatan pada daerah luar Jawa menunjukkan bahwa sudah terjadi "balanching" (keseimbangan) antara Jawa dan Luar Jawa. Jadi anggapan bahwa ekonomi Indonesia hanya bergerak di Jawa saja, itu tidak benar," ujarnya.

Demikian halnya dengan adanya anggapan bahwa, selama ini investasi terjadi di sektor sumber daya alam (natural resources) juga tidak berdasar, karena tren menunjukkan bahwa investasi di sektor manufaktur dan sektor hilir juga terus meningkat signifikan.

Chatib juga menambahkan, bahwa untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional yang berkualitas diperlukan investasi yang dapat menciptakan nilai tambah barang dan jasa di dalam negeri, sehingga diperlukan kebijakan lintas sektor, penyediaan infrastruktur yang memadai.

Selain itu juga dibutuhkan iklim ketenagakerjaan yang kondusif, perbaikan pelayanan penanaman modal terpadu di tingkat pusat dan daerah.

"Upaya ini telah direspon baik kalangan dunia usaha di dalam maupun luar negeri," ujarnya. (tp)


PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah Anda percaya pengerjaan proyek MRT yang sudah resmi dimulai akan berjalan tepat waktu sesuai rencana?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat