TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyanyi dangdut Rhoma Irama mengaku sudah diminta maju sebagai calon presiden (capres) sejak Pilpres 2004 silam. Namun, saat itu ia menolak.
"Saat itu saya tolak. Emangnya enak jadi presiden, tanggung jawabnya besar. Saya tolak, karena saya memang tidak obsesi, tidak berambisi," ujar Rhoma saat berceramah dalam Gebyar Muharram di Jalan H Syahdan RT 02/12, Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat, Minggu (2/12/2012).
Lantas, saat Pilpres 2009 bergulir, Rhoma mengaku dilamar oleh salah satu kandidat untuk maju mendampinginya sebagai cawapres. Lagi-lagi, ia menolak dengan alasan yang sama.
Namun, lanjut pria berjanggut, tahun ini ada begitu banyak peristiwa terjadi di Indonesia, sehingga sebagai anak bangsa, Rhoma merasa resah. Ia pun akhirnya memutuskan bersedia, jika ada yang mencalonkan dirinya maju sebagai capres.
Rhoma menuturkan, dukungan dan desakan kepadanya untuk maju sebagai capres, juga semakin besar. Dukungan itu datang dari berbagai kalangan, mulai dari ulama, habaib, hingga kalangan politisi.
"Jadi, keresahan itu mendorong saya untuk tampil membawa aspirasi Umat Islam. Saya bukan berambisi, tapi saya dalam posisi tidak bisa menolak. Kalau saya menolak, saya lari dari tanggung jawab. Lari dari perintah fisabilillah," paparnya. (*)



Yahoo! OMG