Liputan6.com, Belitung: Ratusan lebih titik penggalian lahan untuk pertambangan timah di Provinsi Bangka Belitung telah merusak pemandangan dan tanah Negeri Laskar Pelangi. Para wisatawan yang hendak berkunjung ke Pulau Bangka maupun Pulau Belitung menjadi miris melihatnya. Namun, kini hutan yang mulai rusak dan tanah yang kering itu sudah mulai tertutupi ribuan pohon jati merah.
Penanaman ribuan jati merah itu dilakukan PT. Babel Land yang merupakan perusahaan swasta. Mereka melakukan revitalisasi hutan bekas pertambangan timah yang dilakukan oleh beberapa perusahaan pertambangan maupun masyarakat.
Presiden Komisaris PT. Babel Land, Tellie Gozelie, menjelaskan bahwa ide penyelamatan hutan gundul dan tanah kering akibat pertambangan tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sosial terhadap tanah kelahirannya yang mulai tidak nyaman lagi.
"Awalnya ini karena rasa tanggung jawab terhadap daerah, dengan merehabilitasi kawasan tambang. Karena kegiatan ini kita mulai semenjak jadi Anggota DPD dan sebelum menjadi Anggota DPD. Waktu kampanye, kita mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan usaha alternatif selain melakukan penambangan timah," kata Tellie kepada Liputan6.com usai acara FGD RUU Provinsi Kepulauan di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung, Rabu (29/2).
Anggota Komite I DPD RI ini menjelaskan bahwa pertambagan timah di Belitung ini menjadi suatu hal yang biasa dan menjadi masalah buat masyarakat Bangka Belitung. Apalagi masyarakat selalu berpikir instan dengan melakukan pertambangan timah sendiri di belakang rumahnya.
"Contohnya, ketika anak-anak pulang sekolah dia langsung pergi ke belakang rumah untuk mencari timah. Jadi dengan mencari uang Rp 50 sampai 100 ribu itu gampang, maka terjadilah pola pikir masyarakat itu menjadi instan," tuturnya.
Setelah dirinya menjadi anggota DPD, ia melihat belum ada gerakan dari masyarakat maupun pemerintah yang tertarik membuat usaha alternatif lain. Alhasil ia berupaya menanam pohon Jati Merah dengan membuat Babel Land atau Teak Garden. Tujuannya, supaya bisa menginspirasi masyarakat untuk dapat melakukan usaha alternatif, selain melakukan penambangan timah.
"Tujuannya bahwa lahan-lahan kering yang menjadi bekas penambangan itu bisa kita hijaukan kembali, dan saya ingin buktikan bahwa di lahan yang rusak itu kita bisa tanam sesuatu yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi," ujarnya.
Perlu diketahui bahwa bisnis kayu Jati ini bukanlah jenis usaha yang sulit. Jika ada yang mau membeli jati, yang mengurus izin adalah si pembeli dan yang menebang juga pembeli itu sendiri. Bahkan per kubiknya dapat dijual seharga Rp 5 juta. Dan 1 kubik itu hanya memerlukan 1,5 batang pohon jati.
"Jadi saya harapkan dengan saya membuka lahan ini, masyarakat Babel ikut menanam pohon jati yang memiliki pendapatan yang tinggi. Secara global, kita mengurangi global warming, dan ikut menghijaukan provinsi Babel, dan tentu enak untuk dipandang," imbuhnya.
"Ke depan ketika ini sukses, maka kita akan membuat balai pelatihan untuk masyarakat. Dan intinya kita melakukan tanggung jawab sosial kepada masyarakat dan kepada lingkungan. Itu tujuan utama saat ini," tambahnya.
Penanaman ribuan pohon Jati Merah tersebut dimulai sejak 1 Februari 2010 lalu. Seluas 160 Hektare lahan tanah dipakai untuk penanaman pohon jati tersebut yang berlokasi di Desa Aik Nao, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Di sisi lain, Willy Wiradana selaku Kepala Eko Agro Forestry Division atau Divisi Penghijauan Babel Land menjelaskan bahwa revitalisasi lahan bekas penambangan timah tersebut bertujuan untuk menghasilkan oxygen sesuai target MDGs 2015 dan international Conference of Global Climate Change, di Bali tahun 2007 lalu.
Dirinya juga menjelaskan bahwa penanaman pohon jati lantaran sifat Hygroscopic akar Jati merah yang dapat memperbaiki dan meningkatkan debit air tanah dan dapat menyuburkan tanah kembali, meskipun bekas penambangan timah membuat tanah di sekelilingnya menjadi kering dan gersang.
"Jadi akan jauh lebih menguntungkan jika kita tanam Jati merah ketimbang tanam sawit. Kalau tanam sawit kan justru banyak menonsumsi air. Justru jati merah ini mengembalikan debit air tanah," jelasnya.
Selain itu, penanaman Jati Merah juga mencegah erosi dan daerah perbukitan yang kritis karena sifat akar tunggang jati merah yang majemuk. Selain itu, kemampuan self financing dalam penghijauan dapat meningkat secara lestari dan membangun hutan tropis.
"Selain itu intensifikasi penghijauan dengan memanfaatkan lahan tidur dapat menjadi kawasan wisata yang mendukung program eco tourism," paparnya.
Selain Jati Merah, Babel Land sendiri juga menanam buah-buahanan yang dapat menjadi nilai ekonomis tambahan untuk karyawan dan dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar. "Misalnya ini akan kita buat menjadi agro wisata."
"Jadi kedepannya dua tahun ini, lahan yang penuh dengan bekas lahan tambang ini akan menjadi hutan kembali. Kita akan coba mulai lagi dengan program-program lain dengan pariwisata. Misalnya dengan outbond, camping ground, home stay di tengah hutan jati. Jadi orang akan senang. Dan nanti juga akan ada peternakan, intinya semua akan dinikmati oleh para wisatawan," terangnya.
Perlu diketahui bahwa dalam satu hektare lahan Jati Merah ini terdiri dari 1.100 pohon Jati Merah dengan ukuran 3X3 meter. Dan secara bertahap pihaknya akan menanam terus. "Jadi mungkin setelah selesai proyek ini akan dibuka juga rehabilitasi ini di tambang yang lain. Dan mungkin kita gandeng pemda untuk memajukan ini," jelas Tellie.(AIS/MEL)



1 komentar