Jakarta (ANTARA) - Mata uang rupiah terhadap dolar AS pada awal pekan sore melemah 34 poin dipicu pelaku pasar yang khawatir terhadap hasil lelang obligasi Prancis dan Spanyol.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Senin sore bergerak melemah 34 poin menjadi Rp9.437 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.403 per dolar AS.
Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada di Jakarta, Senin, mengatakan, Eropa akan mengeluarkan hasil lelang obligasi yang diterbitkan Perancis dan Spanyol.
Namun, lanjut dia, pasar mengkhawatirkan yield obligasi Spanyol akan meningkat kembali ke level tujuh persen, kondisi itu mendorong nilai tukar tunggal Eropa yakni Euro tertekan terhadap dolar AS.
"Kondisi di Eropa membuat permintaan dolar AS meningkat sehingga menguatkan mata uang AS, hal itu membuat imbas kurang baik bagi mata uang rupiah," ujar dia.
Meski demikian, dikatakan dia, Bank Indonesia masih mengintervensi rupiah di pasar sehingga tekanan terhadap nilai tukar domestik tidak terlalu dalam.
Analis Monex Investindo Futures, Johanes Ginting menambahkan, yield obligasi Spanyol dan Italia merangkak naik seiring kecemasan investor terhadap hasil rapat menteri keuangan Eropa yang tidak sesuai ekspektasi sehingga memangkas minat terhadap obligasi yang berisiko.
"Perkembangan yield obligasi yang naik itu akan memberikan tekanan terhadap pasar mata uang berisiko akibat optimisme KTT Eropa hanya bertahan dalam waktu singkat," kata dia.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Senin (9/7) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp9.438 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.403 per dolar AS. (tp)


