Jakarta (ANTARA) - Mata uang rupiah terhadap dolar AS pada Kamis sore bergerak melemah terbatas sebesar lima poin seiring optimisme atas kesepakatan "bailout" Yunani tercapai bergeser menjadi kekhawatiran pertumbuhan ekonomi dan risiko.
Pengamat pasar uang Monex Investindo Futures, Johanes Giting, di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa rupiah cenderung bergerak terbatas terhadap dolar AS seiring optimisme atas kesepakatan pemberian dana talangan (bailout) Yunani yang tercapai pada hari sebelumnya bergeser menjadi kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi dan risiko penerapan program penghematan.
Pernyataan itu dikemukakan sehubungan dengan nilai tukar rupiah ditransaksikan pasar spot mata uang antarbank Jakarta, Kamis sore, melemah sebesar lima poin ke posisi Rp9.050,00 dibandingkan dengan kurs sebelumnya Rp9.045,00 per dolar AS.
Ia mengatakan bahwa nilai tukar euro juga melemah terbebani oleh data ekonomi yang menunjukkan jika ekonomi negara-negara kawasan Eropa semakin berisiko jatuh ke jurang resesi.
"Setelah sektor jasa mengikuti jejak sektor manufaktur dengan terjatuh ke level kontraksi pada bulan ini," ujarnya.
Beberapa data lainnya, lanjut dia, secara mengejutkan juga memperlihatkan perlambatan aktivitas bisnis di Jerman dan Prancis.
Menurut dia, sedikit demi sedikit fokus pasar juga mulai tertuju pada "long-term refinancing operation" (LTRO) milik bank sentral Eropa (ECB).
Berikutnya, pada pekan depan, ECB diperkirakan akan menawarkan sekitar 500 miliar euro hingga sart triliun euro dana pinjaman untuk perbankan Eropa.
"Jika pinjaman yang tersalurkan lebih tinggi, `risk appetite` akan memperoleh dorongan positif dan mata uang euro positif," katanya.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Kamis (23/2) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah ke posisi Rp9.070,00 dibandingkan dengan nilai tukar rupiah sebelumnya di posisi Rp9.059,00 per dolar AS. (rr)


Belum ada komentar