Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada Rabu kembali terkoreksi sebesar 24 poin terhadap dolar AS seiring minimnya fluktuasi di tengah kekhawatiran pertumbuhan global.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Rabu sore bergerak melemah sebesar 24 poin menjadi Rp9.650 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.626 per dolar AS.
"Sebagian besar mata uang dunia tidak banyak bergerak di tengah kekhawatiran atas pertumbuhan global dan pendapatan perusahaan AS yang suram sehingga menyebabkan pengalihan resiko ke mata uang `safe haven` dolar AS," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan, meski indeks manufaktur China naik menjadi 49,1 pada bulan Oktober dibandingkan 47,9 pada September lalu, namun dampaknya masih terbatas menyusul sikap hati-hati investor paska data manufaktur zona Euro yang buruk.
"Kondisi itu mengindikasikan laporan produk domestik bruto (GDP) kuartal keempat zona Euro akan lebih lemah dibanding estimasi sebelumnya," kata dia.
Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Ruly Nova menambahkan, meski pergerakan nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS salah satunya dipicu dari sentimen eksternal, namun BI masih menjaga pergerakan di pasar valas.
"Cadangan devisa kita yang cukup tinggi membuat BI mudah menjaga gerak mata uang domestik terhadap dolar AS," katanya.
Ia mengatakan, ekspor dalam negeri yang masih melemah juga menjadi salah satu faktor nilai tukar domestik tergerus terhadap dolar AS.
"Ekspor kita lemah, sementara impor masih cukup kuat untuk keperluan bahan baku. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit masih membayangi gerak rupiah," kata dia.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (24/10) tercatat mata uang rupiah tidak bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp9.615 per dolar AS. (tp)


