Rupiah Masih Tertekan Pada Rabu Sore

  • Emas Naik karena Aksi "Short Covering"

    Antara

    Chicago (ANTARA/Xinhua) - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada Senin (Selasa pagi WIB) karena aksi "short-covering" (pembelian kembali emas yang telah dijual), menghentikan penurunan tujuh sesi berturut-turut. Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Juni, naik 19,4 dolar AS, atau 1,42 persen, menjadi menetap di 1.384,1 dolar AS per ounce. Penurunan di pasar saham AS dan dolar yang bergerak melemah berkontribusi pada kenaikan emas pada Senin, kata para

  • Pengguna Internet Ilegal, Ratusan Miliar Hilang

    Pengguna Internet Ilegal, Ratusan Miliar Hilang

    Tempo
    Pengguna Internet Ilegal, Ratusan Miliar Hilang

    TEMPO.CO, Surabaya-Kepala Direktorat Jenderal Penyelanggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi Syukri Batubara mengungkapkan negara dan operator penyelenggara telekomunikasi rugi ratusan miliar akibat ulah pengguna internet ilegal.

  • Gadis Bercadar Jadi Tersangka Pemotong 'Burung'  

    Gadis Bercadar Jadi Tersangka Pemotong 'Burung'  

    Tempo
    Gadis Bercadar Jadi Tersangka Pemotong 'Burung'  

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Masih ingat dengan kasus pemotongan alat vital yang dialami Abdul Muhyi, 21 tahun, sepekan lalu? Pada Selasa subuh, 14 Mei lalu, Muhyi datang ke Puskesmas Pamulang dalam kondisi selangkangan berdarah. Ternyata kemaluannya sudah terpotong.

Jakarta (ANTARA) - Mata uang rupiah terhadap dolar AS masih tertekan sebesar 39 poin pada Rabu sore dipicu dari belum adanya bentuk operasional terhadap solusi krisis Uni Eropa (UE).

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta itu bergerak melemah 39 poin menjadi Rp9.469 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.430 per dolar AS.

"Euforia mengenai penyelesaian krisis di UE belum dilanjutkan dalam bentuk operasional sehingga investor masih pesimis. Akibatnya tekanan mata uang euro terhadap dolar AS meningkat, membawa efek terhadap rupiah," kata pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta.

Ia menambahkan, permintaan terhadap dolar AS meningkat kembali setelah IMF memangkas proyeksi turun pertumbuhan ekonomi AS dari 2,1 persen menjadi dua persen sebagai efek menurunnya ekonomi Uni Eropa dan China.

Ia mengatakan, indeks manufaktur di China dan Jerman menurun mengindikasikan melemahnya permintaan. Kondisi itu juga membuat permintaan terhadap aset dolar AS terus naik.

Ia memperkirakan, untuk minggu ke-3 Juli ini tampaknya rupiah belum cukup kuat untuk melanjutkan apresiasinya seiring permintaan terhadap dolar AS masih tinggi.

Pengamat pasar Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, depresiasi euro terhadap dolar AS masih berlanjut dan berimbas negatif pada nilai tukar rupiah.

"Pasca testimoni Ketua Federal Reserve AS yang tidak memberikan indikasi lebih lanjut tentang program stimulus moneter telah memicu penguatan dolar AS di pasar uang global," kata dia.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (18/7) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp9.463 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.474 per dolar AS.(rr)


PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.