Jakarta (ANTARA) - Mata uang rupiah kembali bergerak menguat terhadap dolar AS ke posisi Rp9.275 pada Kamis pagi setelah mengalami tekanan cukup dalam pada Rabu (23/5).
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Kamis pagi bergerak menguat 90 poin menjadi Rp9.275 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.365 per dolar AS.
Analis pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis, mengatakan, rupiah kembali bergerak menguat seiring kabar bahwa pemimpin Uni Eropa (UE) akan melakukan lebih banyak upaya untuk menahan efek "contagion" dari krisis utang.
Ia menambahkan, pertemuan pemimpin UE itu juga membahas tentang kekawatiran kemungkinan Yunani keluar dari mata uang euro.
"Isu Yunani telah membuat sekitar 4 triliun dolar AS keluar dari pasar saham global dalam bulan ini, kondisi itu membuat nilai tukar berisiko termasuk rupiah mengalami tekanan," kata dia.
Dari Amerika Serikat (AS), kata Lana, data penjualan rumah baru naik 3,3 persen mom (month on month) menjadi 343.000 secara tahunan, peningkatan itu diatas ekspektasi analis.
"Naiknya penjualan rumah baru ini menyusul kenaikan penjualan rumah lama (existing homes) yang juga naik pada bulan April lalu," kata dia.
Ia menambahkan, dari China, dikabarkan negara itu akan semakin mengintensifkan injeksi likuiditas melalui "fine tuning" (kebijakan moneter ekspansi) untuk mengurangi lambatnya permintaan domestik dan krisis utang UE yang memburuk.
"Diperkirakan nilai tukar rupiah dapat bergerak menguat terhadap dolar AS didorong juga intervensi Bank Indonesia (BI)," ujarnya.
Analis pasar uang Rahadyo Anggoro menambahkan, faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah masih dari eksternal seiring masih cukup banyaknya sentimen negatif yang terus membayangi.
"Rupiah juga masih digerakkan oleh arus dana asing dari pasar saham dan obligasi," kata dia.(rr)


