Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Kamis pagi belum bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp9.460 per dolar AS.
"Sentimen pasar global membaik pada perdagangan tadi malam, namun pasar Asia masih bergerak fluktuasi. Kondisi itu membuat rupiah tertahan," kata analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Korea Selatan pada kuartal ke dua 2012 melambat, perlambatan itu karena ekspor yang tertahan terutama dari Uni Eropa dan China dan menurunnya keyakinan konsumen.
"Efek krisis Uni Eropa (UE) sudah merembet ke Asia, Jepang dan Korea Selatan melalui motor ekonomi Asia yakni China," katanya.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi China dianggap penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi global. Dalam World Economic Outlook Juli 2012 lalu, IMF merevisi target pertumbuhan ekonomi global dari 3,7 persen menjadi 3,6 persen pada 2012.
Dari dalam negeri, lanjut dia, naiknya nilai investasi di dalam negeri menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh. Realisasi investasi hingga semester I 2012 tercatat Rp148 triliun atau 52 persen (naik 28 persen year on year/YoY) dari target 2012 sebesar Rp238,5 triliun.
"Kenaikan nilai investasi menjadi pendorong ekonomi walaupun juga menaikkan nilai impor barang modal," katanya.
Dari nilai realisasi itu, sekitar 54 persen masih di Jawa, dan 46 persennya di luar Jawa. Realisasi untuk luar Jawa mengalami penurunan terkait dengan minat investasi untuk komoditas yang melemah seiring harga yang sedang turun.(rr)


