Jakarta (ANTARA) - Mata uang rupiah terhadap dolar AS pada Rabu pagi bergerak menguat ke posisi Rp9.560 didorong dari negatifnya data manufaktur AS.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Rabu pagi bergerak menguat sebesar 20 poin menjadi Rp9.560 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.580 per dolar AS.
"Indeks manufaktur AS melemah untuk bulan Agustus menjadi 49,6 dari sebelumnya 49,8 pada bulan Juli. Indeks dibawah level 50 mengindikasikan penurunan produksi atau kontraksi. Kondisi itu membuat dolar AS melemah," kata pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Rabu.
Lana Soelistianingsih menambahkan, penurunan itu juga terkait dengan melemahnya ekonomi negara-negara mitra dagang utama AS seperti Uni Eropa (UE), China, dan Jepang.
Perlambatan itu, dikatakan dia, semakin membuka peluang Bank Sentral AS atau the Fed AS untuk tetap melakukan pembelian obligasi sebagai upaya menambah likuiditas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS.
"Untuk rupiah, kami perkirakan relatif tertahan di kisaran level Rp9.600 per dolar AS," papar Lana.
Sementara itu, pengamat pasar uang Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, rumor perkembangan di Eropa terus berputar, yang memberi investor harapan bahwa bank sentral akan mengumumkan langkah-langkah baru untuk menurunkan yield surat utang dan menopang perekonomian kawasan.
"Namun `trader` menyadari jika pembuat kebijakan Eropa memiliki rekam jejak mengecewakan selama krisis hutang, hal itulah yang akan mengembalikan tekanan terhadap mata uang berisiko," kata Johanes Ginting.(rr)


