Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa sore belum bergerak nilainya atau stagnan diposisi Rp9.180 per dolar AS.
Pengamat pasar uang dari Harvest International Futures, Tony Mariano di Jakarta, Selasa, mengatakan rupiah cenderung bergerak dalam kisaran sempit dan minim transaksi sehingga nilainya tidak berubah.
"Sejak awal Maret lalu hingga saat ini kisaran rupiah bergerak pada kisaran Rp9.100 hingga Rp9.200 per dolar AS dengan kecenderungan melemah," kata dia.
Meski demikian, lanjut dia, rupiah yang bergerak dalam fluktuasi yang terkendali dinilai positif dibandingkan pergerakannya yang tidak menentu.
Ia menambahkan, sentimen yang membuat rupiah dalam kecenderungan melemah dikarenakan inflasi yang diekspektasikan terus meningkat.
"Inflasi April 0,21 persen ekspektasi inflasi akan terus meningkat seiring belum jelasnya kebijakan Pemerintah terkait kebijakan bahan bakar minyak (BBM) kondisi itu akan menekan rupiah," katanya.
Selain itu, kata dia, krisis finansial yang masih berjalan di kawasan negara Eropa membuat aset berisiko kurang diminati investor uang.
Saat ini, menurut dia, mata uang yang diminati investor ditengah tidak pastinya kondisi ekonomi global yakni nilai tukar Yen dibanding dolar AS atau aset "safe haven" lainnya.
"Kondisi AS yang ekonominya mengalami perlambatan membuat dolar AS juga kurang diminati, saat ini Yen yang paling diminati investor uang," kata dia.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Selasa (1/5) tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp9.193 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.190 per dolar AS. (ar)


