Jakarta (ANTARA) - Perdagangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pada Senin pagi, bergerak di dalam area negatif merespon defisit neraca pembayaran triwulan II 2012, kata analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Senin.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar lima poin menjadi Rp9.475 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.470 per dolar AS, katanya.
"Mata uang dalam negeri sedikit melemah terhadap dolar AS merespon defisit neraca pembayaran triwulan ke-2 2012," jelasnya.
Ia menambahkan, paska pengumuman neraca pembayaran Indonesia triwulan II yang tercatat defisit pada Jumat lalu, BI mengambil langkah menaikkan suku bunga Fasilitas Diskonto (FasBI) atau juga dikenal sebagai suku bunga batas bawah 25 bps menjadi empat persen dari sebelumnya 3,75 persen, sehingga selisih dengan BI rate menjadi 175 bps dari sebelumnya 200 bps.
"Kebijakan itu untuk mengantisipasi kemungkinan pelemahan rupiah karena memburuknya neraca pembayaran. BI dan pemerintah mengambil langkah koordinasi untuk mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran," kata dia.
Ia menambahkan, sementara posisi cadangan devisa tercatat naik sangat tipis dari 106,502 miliar dolar AS pada Juni menjadi 106,559 miliar dolar AS pada Juli atau setara dengan 5,6 bulan impor.
Pengamat pasar Bank Himpunan Saudara Rully Nova menambahkan, pergerakan nilai tukar rupiah masih dalam kisaran yang sempit, hal itu dikarenakan investor tengah mengambil posisi `wait and see`.
"Langkah investor itu mengantisipasi perkiraan pasar terhadap AS yang akan melakukan pelonggaran kuantitatif (QE) ke-3," katanya.
Ia menambahkan, investor mengharapkan adanya QE dikarenakan data AS yang cenderung kurang baik. Dengan dilaksanakan QE ke-3 akan dapat memberi dampak positif terhadap nilai tukar berisiko termasuk rupiah.(rr)


