Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Rabu sore tidak bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp9.610 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah pada sore ini tidak bergerak nilainya setelah sempat melemah. Merebaknya optimisme pasar menyusul data produk domestik bruto (GDP) Spanyol tidak seburuk ekspektasi menahan pelemahan rupiah," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan, kondisi itu juga memicu beberapa pembelian spekulatif sejumlah aset beresiko termasuk pada rupiah.
Ia mengatakan, Yunani yang hampir mencapai kesepakatan terhadap pengurangan program penghematan (austerity cut) untuk jangka dua tahun mendatang guna mendorong nilai tukar valuta diharapkan dapat menjadi sentimen bagi pasar berisiko.
Selain itu, lanjut dia, suksesnya Italia dalam melelang obligasi bertenor lima dan 10 tahun juga turut menjadi sentimen positif untuk mendongkrak mata uang berisiko.
"Meski demikian, secara teknikal pergerakan rupiah masih dalam kisaran yang sempit," kata dia.
Analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah dipicu kecemasan pelaku pasar terhadap seberapa lama badai Sandy akan mengganggu aktivitas sektor keuangan dan aktivitas pemerintahan AS, kondisi itu membuat beberapa pelaku pasar tetap memegang dolar AS.
"Pasar juga khawatir badai tersebut akan berubah menjadi badai Katrina seperti yang terjadi pada 2005," kata dia.
Meski demikian, dikatakan dia, sentimen negatif tersebut juga dibayangi kabar positif dari Bank Sentral Jepang (BoJ) yang kembali memberikan stimulus moneter.
"BoJ kembali mengucurkan tambahan stimulus berupa pembelian aset obligasi senilai 11 triliun yen. Padahal, BoJ sebelumnya hanya diprediksi menambah stimulus senilai 10 triliun yen," kata dia.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (31/10) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah nilainya menjadi Rp9.615 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.605 per dolar AS. (tp)


