TEMPO.CO, Semarang - Banjir yang sempat mengepung Kota Semarang menyebabkan empat orang tewas tersengat listrik yang masih mengalir saat air menggenangi rumah mereka. Keempat korban yang merupakan satu keluarga itu menempati rumah di Jalan Mukti Graha B.12 Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.
"Kejadian sekitar pukul delapan malam (Rabu, 16 Januari 2013), saat saya menengok ke rumah, semuanya sudah tergeletak di ruang tengah," ujar Nugroho, kerabat korban saat ditemui di Rumah Sakit Kariadi, Semarang, Kamis, 17 Januari 2013.
Korban terdiri dari Agus Susanto, 50 tahun, dan tiga anaknya: Regina, 18 tahun, Nicolas (12), dan Alexandro (10). Mereka ditemukan di ruang tengah rumah, tepatnya berada di kursi dan dekat lemari pendingin. »Saat ditemukan, jenazah Regina di kursi, Alexandro di sampingnya, sementara Agus dan Nicolas tergeletak di dekat kulkas,” kata Nugroho.
Di luar rumah korban, air tergenang setinggi betis orang dewasa. Sedangkan di dalam rumah, air setinggi mata kaki. Menurut Nugroho, saat itu, arus listrik di dalam rumah masih aktif. »Buktinya lampu masih hidup,” ujarnya.
Kepala Kepolisian Sektor Pedurungan, Komisaris Yudi Artowiyono, menduga penyebab kematian itu akibat sengatan listrik. "Dugaan sementara tersengat aliran listrik di bawah kulkas yang tergenang air. Tapi, untuk memastikannya, kami akan olah TKP," katanya.
Pejabat Pelaksana Tugas Wali Kota Semarang Henrar Prihadi menyatakan prihatin ada korban akibat banjir ini. Dia meminta satuan perangkat daerah yang bertanggung jawab segera berkoordinasi dengan PLN untuk mengantisipasi agar kejadian itu tak terulang kembali. »PLN lebih baik memadamkan listrik bila ada banjir,” katanya.
EDI FAISOL


