Berburu Harta Luthfi

Sebagian Mobil Dinas Masih Enggan Gunakan Pertamax

Makassar (ANTARA) - Sebagian mobil dinas yang digunakan pejabat pemerintah masih enggan menggunakan Bahan Bakar Minyak nonsubsidi yakni PerTamax.

"Meskipun sudah ada spanduk yang berisi seruan untuk menggunakan PerTamax, namun masih ada mobil dinas yang kami layani membeli Premium yang merupakan BBM bersubsidi," kata staf penjualan SPBU Syamsiah di Jalan Masjid Raya, Makassar, Jumat.

Dia mengatakan, pihaknya tidak dapat memaksa pembeli, khususnya yang menggunakan plat mobil berwarna merah untuk membeli PerTamax.

Padahal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menginstruksikan agar jajaran pemerintah hingga di tingkat daerah menggunakan BBM nonsubsidi sebagai upaya mengeliminasi penggunaan BBM bersubsidi.

Selain itu, langkah penghematan energi dengan mengurangi penggunaan AC dan lampu pada siang hari di kantor-kantor instansi pemerintah.

Mengenai masih minimnya antrean pembeli PerTamax dan lebih banyak meminati BBM bersubsidi termasuk mobil intansi pemerintah, juga diakui staf penjualan SPBU di Jalan Urip Sumohardjo, Makassar Muntasir.

Dia mengatakan, pasokan BBM bersubsidi dari Pertamina sudah dibatasi, sementara peminatnya tidak semakin berkurang.

"Akibatnya, Premium lebih cepat habis dibandingkan PerTamax. Sebelum ada pembatasan Premium, biasanya masih dapat dijual hingga dini hari, namun kini biasanya sore sudah habis," katanya.

Sementara PerTamax, lanjut dia, tidak pernah kekurangan stok, karena peminatnya lebih sedikit, apalagi sebagian mobil dinas pemerintah masih enggan menggunakan PerTamax.

Sementara itu, berdasarkan data PT Pertamina Region VII Makassar diketahui, konsumsi premium di wilayah Makassar dan sekitarnya rata-rata 600 - 700 Kiloliter per hari, sedangkan PerTamax hanya enam hingga 10 KL per hari.

Salah satu penyebab dominannya konsumsi Premium itu, karena harganya jauh lebih murah dibandingkan PerTamax yang sudah mencapai Rp10.300 per liter, sementara Premium hanya Rp4.500 per liter. (tp)


PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.