H+5 Terperangkap

Seniman Tunisia Terpukul karena Tidak Didukung Pemerintah

Tunis (AFP/ANTARA) – Para seniman Tunisia, terguncang dengan kerusuhan mematikan yang dilakukan kelompok Islam radikal terkait karya seni yang dianggap menghina. Para seniman tersebut mengatakan bahwa mereka merasa ditinggalkan menteri kebudayaan, yang justru membela para pengunjuk rasa.


“Seakan-akan tanganku telah dipotong. Saya sangat marah, sangat mengecewakan,” kata seorang pelukis yang kanvasnya di rusak dalam serangan 10 Juni di sebuah galeri seni Tunis.


“Ketika saya mendengar posisi pemerintah, saya merasa seperti berada di sebuah masa percobaan kebebasan, tapi saya tidak bisa membela diri,” kata seniman tersebut kepada AFP, yang meminta agar namanya tidak disebutkan.


Menteri Kebudayaan Mehdi Mabrouk, sementara mempertahankan kreativitas artistik, berhenti mengutuk serangan tersebut, yang diyakini telah dilakukan oleh kaum konservatif Muslim Salafi.


Mabrouk mengatakan bahwa pameran itu (yang menampilkan lukisan wanita telanjang dengan pria berjanggut berdiri di belakangnya, dan sebuah karya yang bertuliskan kata ”Allah”dengan sebuah kumpulan semut) tidak menghormati nilai-nilai Islam dan dapat dianggap sebagai bentuk “provokasi artistik”.


Serikat kesenian Tunisia bersama direktur acara pemeran tersebut, Luca Luccatini, berencana mengajukan pengaduan resmi terhadap beberapa menteri pemerintah atas tindakan “fitnah”.


Para penganut Salafi mengamuk setelah mereka merasa bermasalah dengan karya-karya seni tersebut. Mereka melakukan kerusuhan selama dua hari, termasuk serangan ke galeri tersebut dan menyebabkan satu orang meninggal serta lebih dari 100 orang terluka.


itu merupakan kerusuhan terburuk sejak penggulingan Zine el Abidine Ben Ali pada Januari 2011, menggebrak gelombang pemberontakan di wilayah tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Arab Spring.


Lebih dari 140 orang, yang mayoritas merupakan orang Salafi, ditangkap karena menyerang pos polisi dan membakar sebuah gedung pengadilan Tunis dalam kerusuhan tersebut, ujar kementerian dalam negeri, pada Senin.


Di antara mereka adalah ulama dari sebuah masjid di kota barat laut Jendouba, yang menyerukan pembunuhan para petugas polisi saat shalat Jumat, kata seorang pejabat kementerian itu kepada AFP.


Bahkan sebelum bentrokan terakhir, para seniman mengatakan bahwa mereka telah sering menjadi sasaran para pemimpin kelompok keagamaan pasca revolusi Tunisia.


Dan mereka sangat terkejut saat mengetahui bahwa rezim yang lebih moderat itu (yang menggantikan Ben Ali) tidak membela para seniman bangsa. (ai/ml)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.