TEMPO.CO, Bandung - Mulai tahun ini, SMAN 5 Bandung tak lagi menerima dana hibah pendidikan untuk siswa miskin. Pengelola dan komite sekolah sepakat dana itu disiapkan sendiri dari subsidi silang siswa kaya. »Baru tahun sekarang kami tak memakai dana hibah,” kata anggota komite sekolah yang juga guru SMAN 5, Agus Setya Mulyadi, Kamis, 26 Juli 2012.
Di SMA favorit itu, kini tercatat ada lima siswa baru yang tergolong miskin. Total jumlahnya dengan siswa kelas di atasnya sebanyak 13 orang. »Keluarga tidak mampu itu semuanya tidak kita ajukan menerima dana hibah pemerintah,” ujarnya.
Alasannya, kata Agus, diperkirakan masih banyak siswa SMA dan SMK miskin di sekolah lain yang butuh dana hibah. Sedangkan dari perhitungan tanggungan biaya, dana siswa miskin bisa diatasi sendiri oleh sekolah. »Sekolah lain apakah ada yang sama, saya kurang tahu,” kata pengurus di Dewan Pendidikan Kota Bandung itu.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji membenarkan soal SMAN 5 yang kini tak mengajukan dana hibah untuk siswa miskin. »Baru SMA 5 saja, sekolah lain belum ada,” katanya.
Dana yang biasa disebut sebagai bantuan Wali Kota Khusus (Bawaku) Pendidikan itu tahun ini dialokasikan sebesar Rp 26 miliar, khusus untuk pelajar SMA dan SMK sederajat di sekolah negeri maupun swasta. Jumlah siswa penerimanya kini masih dihitung dan didata ulang oleh komite sekolah.
Menurut Oji, alokasi anggaran dan besaran duit per anak tahun ini diperbesar. Tahun lalu dana hibah itu Rp 20 miliar untuk 16 ribu siswa, sekarang alokasinya Rp 26 miliar. »Hitungannya dari jumlah siswa miskin tahun lalu ditambah 10 persen atau berkisar 18 ribu siswa,” ujarnya.
Jika jumlahnya melebihi kuota dana, kata Oji, maka jumlah siswa miskin harus dipangkas dari daftar penerima dana hibah. Mereka yang tersisih menjadi tanggungan sekolah untuk pembiayaannya.
ANWAR SISWADI



Yahoo! OMG