TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mengatakan angka buta aksara di wilayahnya masih cukup tinggi. Diakuinya memberantas buta aksara di Jawa Timur sulit dilakukan karena ada penolakan warga untuk belajar membaca dan menulis huruf latin. Itu misalnya terjadi pada Jamaah Diniyah Salafiyah yang masih menolak belajar membaca dan menulis latin.
Warga jamaah ini sebenarnya mampu menulis Arab gandul atau tulisan Arab berbahasa Jawa dan kitab kuning. Meski begitu, kata Soekarwo, menurut UNESCO mereka yang tak mampu membaca dan menulis latin dianggap buta aksara.
"Mereka disuruh sekolah umum atau paket tidak mau," kata Soekarwo ketika ditemui seusai Rapat Kabinet Terbatas di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa, 31 Juli 2012. Padahal selain mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah, jika mereka mau belajar baca tulis huruf latin, juga mendapatkan dana BOSDA dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Dia mengatakan, Pemerintah Daerah Jawa Timur memberikan BOSDA untuk setingkat SD sebesar Rp 15 ribu perbulan, SMP senilai Rp 25 ribu perbulan dan untuk pengajar Rp 300 ribu perbulan. Ia berencana bekerja sama dengan, pemerintah daerah kabupaten/kota, Kementerian Agama, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendorong agar tuna aksara ini mau sekolah.
"Kemendikbud kabarnya sudah siap membantu ke depan," ujar dia. Daerah yang jamaah salafiyahnya susah diajak bersekolah umum kebanyakan berasal dari tapal kuda seperti, Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang.
Menurut Soekarwo, lulusan Madrasah Salafiyah seharusnya menguasai Bahasa Indonesia, Matematika, Kewarganegaraan, dan IPA berdasarkan konsep UNESCO PBB.
Dia mengaku heran, meski pelajaran utama sekolah itu tak diajarkan, para siswa madrasah salafiyah ini ternyata bisa diterima bersekolah ke luar negeri seperti Mesir, Tunisia, dan negara-negara Timur Tengah lain. "Tapi di IAIN tidak diterima," ujar Soekarwo yang sering dipanggil Pakde Karwo ini.
SUNDARI


