TEMPO.CO, Surakarta - Menjelang pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 1 Agustus 2012, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Surakarta mulai menambah stok pertamax.
Pengawas SPBU Sumber, Sumarsono, mengatakan penambahan stok pertamax untuk mengantisipasi naiknya permintaan oleh instansi pemerintah. Terhitung mulai 1 Agustus, kendaraan dinas di wilayah Jawa-Bali tidak boleh lagi menggunakan bahan bakar minyak bersubsidi.
Di lokasi dekat SPBU Sumber terdapat kantor Kementerian Agama Surakarta dan kantor Perbendaharaan Negara.
Menurut Sumarsono, stok pertamax ditambah menjadi 2 kali lipat dari hari biasa. »Biasanya kami menyiapkan 5-6 ton liter pertamax. Kini disiapkan hingga 10 ton liter pertamax,” katanya kepada Tempo, Minggu, 29 Juli 2012.
Selain mengantisipasi permintaan dari kendaraan dinas yang membeli pertamax, penambahan stok juga karena tren konsumsi pertamax meningkat seiring turunnya harga pertamax menjadi Rp 9.050 per liter.
Senada, Pengawas SPBU Lor Beteng, Danang Wijaya mengatakan per Agustus akan menambah stok pertamax dari awalnya 8 ton liter menjadi 16 ton liter untuk kebutuhan sebulan.
»Kalau untuk premium tetap 16 ribu liter untuk sehari,” katanya.
Selama ini penjualan pertamax hanya 200-250 liter dalam sehari. Jika instansi pemerintah mulai memakai pertamax, dia memperkirakan ada kenaikan penjualan cukup signifikan. Sebab SPBU Lor Beteng memang menjadi salah satu pom bensin yang melayani penjualan bahan bakar minyak untuk kantor pemerintah.
»Penjualan kami untuk kebutuhan bahan bakar minyak instansi pemerintah tercatat 20 ton liter premium dan solar dalam sebulan. Jadi mungkin akan ada kenaikan pembelian,” ujarnya.
Jika stok pertamax tidak mencukupi, kata Danang, maka dia menambah lagi penebusan pertamax ke PT Pertamina (Persero).
Untuk pelaksanaan di lapangan, mengatakan petugas SPBU sudah diminta untuk mengarahkan mobil pelat merah dan pelat TNI/Polri untuk diisi dengan pertamax. »Kalau untuk mobil badan usaha milik negara, patokannya stiker khusus. Kalau belum ada stikernya, kami tidak bisa memaksa untuk mengisi pertamax,” katanya.
UKKY PRIMARTANTYO
Dahlan Iskan Disindir Komnas HAM: Bisanya Urus Tol
30 Persen Mahasiswa ITB dari Keluarga Kaya Raya
Polisi Akhirnya Berani Stop FPI
Runtuhnya ‘Tembok Tabu’ Olimpiade
Ma''ruf Amin Sarankan Pemilih Islam Coblos Foke
NasDem Pede Kalahkan Demokrat di Pemilu 2014
Indonesia Didesak Selesaikan Masalah Rohingya


