Tiga Tentara Nato Tewas di Afghanistan Berasal dari AS

Washington (AFP/ANTARA) - Tiga tentara Amerika Serikat termasuk di antara yang tewas akibat serangan bom jibaku pada Rabu terhadap ronda tentara di Afghanistan timur, kata pejabat pertahanan negara adidaya itu.

Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO sebelumnya menyatakan tiga tentaranya tewas akibat pemboman itu, tapi tidak mengungkapkan kewarganegaraan mereka.

Beberapa tentara lain Amerika Serikat juga luka akibat serangan di dekat kota Khost itu, kata pejabat pertahanan tersebut, yang berbicara dengan syarat tak dikenali.

Serangan itu, dengan pembom jibaku Taliban pembom mengendarai sepeda motor menabrak ronda Afghanistan-NATO di Khost, menewaskan 21 orang, termasuk ketiga warga Amerika Serikat tersebut, kata pejabat.

Itu adalah serangan besar kedua atas NATO di Khost dalam tiga pekan.

Pemerintah Afghanistan menuding Taliban sebagai pelakunya dan juru bicara pejuang itu kemudian menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Juru bicara kementerian dalam negeri Sediq Sediqqi menyatakan ledakan pada Rabu itu menyasar ronda gabungan Afghanistan dan sekutu, yang melewati Khost, salah satu bagian Afghanistan paling bergolak.

Khost berbatasan dengan daerah suku Pakistan, yang terletak di luar kendali pemerintah, dan tempat pejabat Amerika Serikat menyatakan Taliban dan Alqaida membuat markas gerakan di Afghanistan.

Jaringan Haqqani, kelompok keras dekat Alqaida dan disalahkan untuk beberapa dari serangan gerilyawan paling berani di Afghanistan, sangat giat di provinsi tersebut.

Pejabat Amerika Serikat menuntut Pakistan menumpas gerilyawan Haqqani di dalam perbatasannya.

Amerika Serikat menempatkan sekitar 100.000 tentara di negara terkoyak perang itu sejak serbuan pimpinannya untuk menggulingkan pemerintah Taliban pada 2001.

Sejumlah 3.055 tentara asing pimpinan Amerika Serikat tewas di Afghanistan sejak serbuan pada 2001, dengan Amerika Serikat menderita korban terbanyak dengan 2.016 orang, diikuti Inggris dengan 419, Kanada (158), Prancis (86), Jerman (53), Italia (49), Denmark (42), Polandia (36), Spanyol (34), Australia (32), Belanda (25), dan sisanya dari negara lain anggota persekutuan sekitar 40 negara itu.

Perang itu sangat tidak disukai rakyat Barat pengirim pasukan ke Afghanistan. Jajak pendapat di Inggris, Prancis dan Jerman menunjukkan kian banyak warganya menuntut tentara mereka segera ditarik.

Dukungan bagi perang di Afghanistan turun tajam di kalangan warga Amerika Serikat dalam beberapa bulan belakangan saat mereka semakin kecewa dengan kemelut sejak lebih dari satu dasawarsa lalu itu, kata jajak pendapat New York Times/CBS News, yang disiarkan pada akhir Maret.

Dua pertiga dari yang ditanya -69 persen- menyatakan Amerika Serikat seharusnya tidak lagi berperang di Afghanistan, naik dari 53 persen pada November dan persentase tertinggi sejak jajak pendapat New York Times/CBS News mengajukan pertanyaan itu pada 2009, kata CBS.

Enampuluh delapan persen petanggap menyatakan pertempuran itu "agak buruk" atau "sangat buruk", sementara 42 persen menyuarakan pandangan tersebut pada November 2011, kata "New York Times". (jk)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.