REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Selama tujuh tahun Joko Widodo (Jokowi) memimpin Kota Solo, baru kali ini Kota Solo dilanda aksi kekerasan antar warga. Tak ayal peristiwa itu memunculkan keheranan di kubu pasangan Cagub-Cawagub DKI Jakarta Jokowi-Basuki.
"Kerusuhan baru kali ini terjadi dan momentumnya tepat dengan pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta," kata Dwi Rio Sambodo, anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta yang juga tim sukses Jokowi, Sabtu (5/5).
Rio mengatakan, aksi kekerasan yang terjadi di Solo tak ayal menciptakan pertanyaan di benak sejumlah pihak mengenai adanya upaya menjatuhkan citra Jokowi.
Eva Sundari misalnya, politisi PDI-P di DPR-RI itu menyatakan kepada media massa bentrokan di Solo sebagai agenda hitam untuk merusak prestasi Jokowi di Kota Solo.
Tapi tokh, Rio tak berani menyimpulkan apakah dugaan Eva benar atau tidak. "Kami masih berpositif thinking. Tapi dalam politik segalanya bisa terjadi. Pernyataan ibu Eva merupakan analisis yang kritis," kata dia.
Rio juga membantah bila bentrok dilatarbelakangi ketidakrelaan warga Solo terhadap Jokowi yang maju dalam bursa Pilgub DKI Jakarta. Hal ini karena Jokowi telah mengomunikasikan pencalonannya di DKI Jakarta kepada seluruh elemen yang ada di Kota Solo. "Warga Solo sudah memberikan dukungan moral pada Pak Jokowi," kata Rio.
Sebelumnya, Jum'at (4/5), terjadi bentrokan antara warga di Gandekan, Jebres, Solo dengan kelompok ormas. Akibat peristiwa itu, dua orang warga mengalami luka terkena bacokan senjata tajam.


