Adakah dalil khusus yang menganjurkan umat untuk mudik atau pulang kampung halaman saat Idul Fitri? Mengingat mudik sudah seperti “keharusan” di negeri kita.
(Tri, Sorong)
Idul Firi merupakan salah satu hari raya umat Islam. Idul Fitri artinya “kembali kepada fitrah atau kesucian”. "Idul Fitri" sendiri merupakan bahasa harapan, mudah-mudahan puasa yang telah dikerjakan selama satu bulan itu mampu mengembalikan manusia pada kesuciannya.
Idul Fitri memiliki dua konteks; konteks ritual dan konteks kultural. Idul Fitri dalam konteks ritual dikerjakan secara seragam oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, yaitu dimulai dengan pengumpulan zakat fitrah, memperbanyak takbir, salat Idul Fitri sebanyak dua rakaat, dan saling mendoakan dengan ungkapan “Taqabballah minna wa minkum,” yang artinya, “Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah saya dan Anda,” bahkan dibarengi dengan saling memaafkan.
Sedangkan dalam konteks kultural, pelaksanaan Idul Fitri diwarnai atau dipengaruhi oleh kultur atau budaya di mana umat Islam itu berada. Umat Islam Indonesia dalam perayaan Idul Fitri bisa saja berbeda secara kultural dengan umat Islam di Timur Tengah, Eropa atau Amerika. Di Indonesia, misalnya, ada budaya membuat ketupat, bagi-bagi uang baru pada saudara-saudara, bersilaturahmi pada kerabat, dll. Sementara di Timur Tengah atau di belahan dunia lainnya budaya seperti itu belum tentu kita temukan.
Mudik atau pulang kampung halaman pada hari Raya Idul Fitri secara eksplisit tidak ada dalilnya dalam Alquran dan sunah karena mudik merupakan aspek kultural khas Indonesia. Tetapi, bukan berarti budaya mudik itu salah. Kalau mudik itu diniatkan untuk menjalin dan menguatkan ikatan silaturrahmi, maka banyak ayat dan hadis yang menyuruh kita agar menjalin dan menguatkan tali silaturahmi, di antaranya dijelaskan dalam QS An-Nisa 4:1, QS Al-Hujurat 49:10-13 dan diperjelas dengan sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang ingin diluaskan rezeki dan dipanjangkan umur, maka jalinlah ikatan silaturrahmi."
Simpulannya, mudik adalah budaya khas Indonesia yang perlu dilestarikan dan dikelola secara benar dan teratur selama diniatkan untuk bersilaturahmi, berbagi rezeki, menjalin cinta kasih, persahabatan dan perhatian. Tetapi budaya mudik harus diluruskan apabila niatnya untuk menghinakan orang atau untuk pamer kekayaan dan kekuasaan karena Islam mengharamkan riya (pamer) dan kesombongan.
ARTIKEL LAIN
Kolesterol Buruk Terlalu Banyak? …
Berpuasa sepanjang bulan Ramadan dari waktu Imsak sampai Magrib Lainnya »
Rahasia Bugar Vegetarian Saat …
Bagaimana para vegetarian menyambut bulan puasa? Lainnya »
Anehnya Pasar Kaget Bulan …
Pada bulan puasa, sambil menunggu beduk berbunyi, banyak orang Lainnya »
GALERI
1 - 4 dari 10
POLL
Apa jenis rasa kudapan yang Anda sukai saat berbuka?
Memuat...

