Kenaikan BBM

Tutu: Bush dan Blair Harus Diadili Menyangkut Perang Irak

London (AFP/ANTARA) - Uskup Besar Desmon Tutut pada Ahad mendesak mantan perdana menteri Inggris Tony Blair dan mantan Presiden AS George W Bush diadili di Denhaag atas peran mereka dalam perang Irak.

Tokoh perdamaian Afrika Selatan itu, yang menulis dalam surat kabar "The Observer", menuduh kedua orang tersebut menggunakan senjata pemusnah massal dan mengatakan serbuan itu menyebabkan dunia tidak tenang dan terbelah ketimbang dalam kemelut lain dalam sejarah.

Tutu menyatakan bahwa standar yang berbeda tampaknya akan diterapkan bagi penyidangan para pemimpin Afrika ketimbang rekan-rekan Barat, dan menambahkan bahwa jumlah korban tewas dalam dan setelah konflik Irak cukup untuk mengadili Blair dan Bush.

"Berdasarkan alasan ini saja, dalam satu dunia yang konsisten, mereka yang bertanggung jawab atas penderitaan dan kehilangan nyawa ini harus diitindak dalam cara yang sama seperti terhadap rekan-rekan Afrika dan Asia mereka yang telah dilakukan untuk mempertanggung jawabkan tindakan-tindakan mereka di pengadilan Den Haag," kata tulisan Tutu di surat kabar mingguan yang terbit Ahad itu.

"Tetapi kendatipun korban lebih luas telah dipastikan di luar ladang pembunuhan , hati dan perasaan yang sangat memilukan dihadapi para anggota keluarga korban di seluruh dunia."


Tutu, yang adalah pngertik vokal terhadap perang Irak, juga membela keputusannya tidak menghadiri konferensi Afrika Selatan mengenai kepemimpinan pekan lalu karena Blair hadir.

"Saya sangat tidak layak untuk menghadiri diskusi-diskusi ini...Sampai sekarang , saya memiliki perasaan yang sangat tidak tenang untuk menghadiri KTT mengenai "kepemimpinan " dengan Tuan Blair," tambahnya.

Pemanang hadiah Nobel Perdamaian itu juga menyatakan bahwa perang Irak yang dipimpin AS uutuk menggulingkan presiden Saddam Hussein itu menciptakan landasan bagi perang saudara di Suriah, dan kemungkinan krisis Timur Tengah yang meluas yang melibatkan Iran.

"Mereka membawa kita ke tebing yang curam di mana kita sekarang berdiri -- dengan momok konflik Suriah dan Iran di depan kita."(ar)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.